Antara Delft dan Leiden

Selama menjalani studi di Belanda, bisa dibilang saya berada dalam kondisi yang unik. Kenapa? Karena walaupun saya berkuliah di TU Delft, saya tinggal tidak di Delft. Ini sebenarnya adalah hal yang biasa, karena banyak juga mereka yang tinggal di daerah sekitar Delft seperti Den Haag, Rijswijk, hingga Schiedam. Namun yang membuat unik adalah saya memilih tinggal di kota Leiden yang secara jarak lebih jauh dibanding kota-kota tersebut.

Pertanyaan lanjutannya: kenapa Leiden? Well, sebenarnya simpel saja, karena istri saya menjalani kuliah di Leiden University selama setahun. Dan dengan kondisi demikian saya harus sedikit mengalah agar istri saya tidak perlu travelling terlalu jauh. Setidaknya butuh 20 menit untuk melakukan perjalanan kereta dari Leiden ke Delft. Ditambah 10 menit bersepeda dari stasiun ke kampus, total saya butuh setengah jam perjalanan setiap hari. Tidak lama sebenarnya, mengingat sistem kereta di Belanda yang reliable, apalagi jika dibandingkan dengan di Jakarta, namun tetap saja ada waktu yang sayang terbuang. Sebenarnya kami juga memiliki opsi untuk tinggal di Den Haag, yang berada di tengah antara Leiden dan Delft. Sayangnya dulu kami tidak beruntung mendapatkan rumah yang sesuai dari sisi budget dan lokasi.

Apa implikasi dari kondisi ini? Pertama, saya harus berlangganan paket kereta yang agak lebih mahal dibanding teman-teman yang lain. Paket yang saya pilih adalah dal vrij, dimana saya harus membayar 99 euro per bulan supaya saya bisa travelling gratis di luar jam sibuk (06.30-09.00 dan 16.00-18.30). Setelah dihitung-hitung, nominal ini adalah yang termurah dibandingkan jika saya berlangganan paket-paket yang lain, tentu dengan catatan saya harus berangkat setelah jam 9 pagi dan pulang setelah setengah 7 sore. Memang sedikit costly, tapi untuk sekarang ini adalah deal terbaik.

Implikasi kedua adalah domisili PPI. Berhubung saya kuliah di Delft, seharusnya aktivitas PPI saya lebih banyak di PPI Delft, secara saya hanya “numpang tinggal” di Leiden saja. Namun faktanya tidak demikian karena bisa dibilang banyak waktu yang dihabiskan untuk melakukan perjalanan PP Delft-Leiden seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Tapi, saya pun juga tidak banyak turut serta dalam aktivitas-aktivitas di PPI Leiden, dan ini lebih karena ketidakcocokan jadwal akademik dengan teman-teman di Leiden. Meski demikian, saya tetap berusaha nimbrung dengan teman-teman di kedua kota ini, dan benefit-nya adalah saya bisa mendapatkan network pertemanan yang jauh lebih luas. Saya tidak hanya bisa mendapat perspektif dari anak-anak teknik, tapi juga dari teman-teman berlatar belakang sosial. Sungguh jadi sesuatu yang menarik dan Insya Allah bermanfaat.

Memasuki tahun kedua perkuliahan, saya dan istri sepakat untuk mencari tempat tinggal di Delft pasca istri saya melahirkan. Ada sejumlah alasan terkait keputusan ini. Pertama, istri saya telah selesai studi, sehingga tidak ada kepentingan mendesak lagi di Leiden. Kedua, menghemat biaya yang harus dikeluarkan, terutama dari sisi transportasi. Ketiga, meningkatkan produktivitas dan mobilitas, karena dalam satu harinya saya bisa memiliki 40 menit extra yang dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang produktif. Memang tidak gampang mencari tempat tinggal di Delft, apalagi di bulan Januari yang merupakan masa tengah tahun perkuliahan, tapi semoga saja kami beruntung dan mendapatkan tempat tinggal yang cocok dengan kriteria kami. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s