Rehat (Sebuah Napak Tilas)

Berorganisasi telah menjadi sesuatu yang sungguh menarik perhatian saya sejak dulu. Dimana ada kesempatan untuk menempa diri di organisasi kesiswaan ataupun kemahasiswaan, disitu saya berusaha untuk hadir dan aktif terlibat. Entah apa pendorongnya, tapi mungkin dorongan untuk membuktikan diri dan memberikan manfaat bagi orang banyak adalah beberapa faktornya.

Saya ingat betul, dulu saya adalah anak yang cengeng saat SD. Sering juga jadi korban diusilin teman-teman. Akhirnya saya bukan jadi orang yang menonjol dalam kehidupan sehari-hari, walaupun dari sisi akademik sebenarnya pencapaian saya bisa dibilang lumayan. Namun begitu masuk SMP, ada momentum yang mengubah saya. Jadi salah satu peserta terbaik waktu MOS (entah apa penilaiannya, masih gak ngerti sampai sekarang, haha), ikutan ekstra kulikuler Nasyid dan jadi juara beberapa kompetisi, serta jadi anggota Palang Merah Remaja yang bisa standby di belakang barisan setiap upacara hari senin in case ada yang sakit. Tapi yang paling nampol buat saya memang pengalaman ketika jadi pengurus OSIS di SMP selama 2 tahun. Dari sinilah rasa ingin membuktikan diri bahwa saya bisa jadi orang yang “berbeda” itu muncul, dan ini benar-benar jadi pijakan saya untuk kedepannya.

SMP berlalu, saya masuk SMA di Bukit Duri yang terkenal akan banjirnya. Punya modal yang cukup saat SMP membuat saya merasa bisa melakukan sesuatu kembali saat SMA ini. Beberapa aktivitas saya ikuti, seperti ikutan subseksi Rohani Islam (Rohis), subseksi Teknologi & Sound System (Teksound), dan subseksi Kemasyarakatan (Kemas). Dari ketiganya, Kemas paling memberi kesan buat saya, karena impresi positifnya untuk mengajak berbagi dan membuat orang disekitar kita tersenyum, sesuai dengan apa yang saya cita-citakan. Aktivitas di subseksi inilah yang membuat saya terpilih jadi salah satu peserta LKS dan lolos menjadi 16 besar kandidat ketua Pengurus OSIS. Sayang akhirnya saya tersisih di 8 besar, walaupun memang saat itu gak punya keinginan yang besar jadi ketua, hehe. Akhirnya saya menjadi salah satu pengurus OSIS bersama 15 kawan-kawan yang seru banget. Terlepas dari berbagai drama dan konflik yang ada (lucu banget kalau diinget-inget konflik jaman dulu itu, haha), kekeluargaan kami erat banget hingga saat ini. Kami pun masih sering berkumpul bareng walopun hampir gak pernah lengkap 16 orang, apalagi sejak saya di Belanda, hehe.

Masa kuliah S1 di kampus gajah menjadi masa-masa dimana saya paling banyak menghabiskan waktu berorganisasi. Mulai dari jadi panitia PROKM, panitia ITB Fair, peserta Diklat Aktivis Terpusat, sampai jadi ketua Masa Bina Cinta. Saya juga turut aktif di PLO STEI 2009 sebagai divisi motivator dan menjadi anggota divisi pendidikan HME ITB. Berorganisasi selama masa kuliah ini membuka cakrawala baru buat saya, terutama dengan berbagai karakter mahasiswa ITB yang sangat diverse dan unik. Selain jadi kenal banyak orang, berorganisasi memberikan saya pengalaman untuk bisa mengaktualisasikan diri saya menjadi individu yang lebih baik. Modal inilah yang saya bawa untuk akhirnya maju sebagai salah satu kandidat ketua HME ITB. Sayang, lagi-lagi saya gak terpilih, hehe. Harus diakui, saya agak terlambat mempersiapkan diri saat itu, padahal niatan sebenarnya sudah ada. Tapi gak masalah, akhirnya diajak gabung di kepengurusan HME ITB sebagai Sekjen yang mengurusi operasional dan administratif organisasi. Pengalaman baru yang berharga setelah sebelumnya banyak mikir urusan konseptual dan kaderisasi. Secara umum, saya puas dengan pencapaian kami semua selama satu tahun menjabat, dan silaturahmi kita semua pun tetap terjaga hingga saat ini. Alhamdulillah, banyak diantara teman-teman yang sekarang sudah jadi orang hebat dan melanglang buana kemana-mana. Semoga mereka semua sukses terus, amin.

Lama vakum berorganisasi setelah lulus, kesempatan itu muncul lagi saat saya jadi peserta Program Kepemimpinan LPDP angkatan 11. Saat itu ada pemilihan ketua angkatan pra-PK, dan saya bersaing dengan Samudra Harapan Bekti (Sammy) serta Suar Sanubari (Suar). Dua-duanya jauh lebih keren euy, apa daya saya gak terpilih lagi, haha. Tapi sibuk-sibuknya mengorganisasi segala keperluan saat PK membuat saya kembali bernostalgia waktu berorganisasi masa kuliah dulu, dan harus diakui saya menikmatinya. Keseruan itu pun berlanjut saat hari-H PK LPDP, walaupun rasanya kembali kayak diospek, tetep aja seru bertemu dengan orang-orang hebat yang punya mimpi besar membangun Indonesia dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dan pada akhirnya, segala pengalaman berorganisasi yang saya jalani membawa saya sampai pada saat ini. Di negeri Belanda, si penjajah Indonesia. Ketika panggilan menjadi kandidat sekjen PPI Belanda muncul, saya sempat ragu meskipun memang ada niatan di hati. Ini sebenarnya adalah saat yang tepat untuk bisa memaksimalkan potensi diri saya untuk mengabdi kepada banyak orang. Tapi pada akhirnya saya memantapkan diri untuk maju meskipun terlambat. Sayang, keterlambatan tersebut lagi-lagi nampaknya menjadi bumerang yang akhirnya membuat saya (lagi-lagi) belum diberi kesempatan menjadi pemimpin, hehe. Meski begitu, saya tetap diminta membantu menjalankan organisasi besar ini, dan setelah menimbang-nimbang akhirnya saya menerima tawaran memegang Divisi Kajian Keilmuan dan Keprofesian (K3).

Semua momen keorganisasian yang saya jalani sejak dulu hingga saat ini menyadarkan saya akan satu hal: sepertinya memang hal-hal seperti inilah yang saya suka. Saya mau merelakan waktu untuk bisa totalitas mewujudkan hal-hal yang mungkin remeh temeh bagi orang lain, terutama karena tidak akan tercantum di dalam transkrip akademik. Tapi buat saya, ini sungguh berarti. Karena saya percaya, apa yang saya lakukan ini bisa memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti di masa depan. Karena itu, saya berusaha melakukan semuanya sungguh-sungguh dan dengan totalitas tinggi.

Namun pada akhirnya, akan ada saat dimana kita harus berhenti sejenak, terutama setelah apa yang saya jalani setahun kebelakang. Sudah saatnya rehat dari semuanya, dan saya menyadari bahwa ada hal-hal lain yang sungguh mendasar yang menjadi tanggung jawab kita. Semuanya sudah berubah. Saya kini telah berkeluarga, dan sebentar lagi akan kedatangan sang buah hati. Merekalah yang kini harus menjadi fokus utama saya. Sehingga saya pikir setelah tanggung jawab saya selesai, rasanya saya akan benar-benar rehat dulu, entah sampai kapan. Yang jelas, semua pengalaman yang saya dapatkan lewat berorganisasi adalah aset berharga yang menjadikan saya seperti sekarang ini. The show must go on.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s