Menuju Indonesia Emas 2045, Apa Peran Pemuda? (Sebuah Catatan Lingkar Inspirasi PPI Belanda)

“Kalau kita tidak paham masa lalu, kita tidak akan pernah mengerti masa sekarang, dan kita akan kesusahan membayangkan masa depan.” (Prof. Salim Said)

Kutipan diatas dipaparkan oleh moderator (M. Syarif Hidayatullah, Erasmus University Rotterdam) sebagai pembuka diskusi hangat bertajuk “Lingkar Inspirasi” yang diselenggarakan PPI Belanda bekerjasama dengan KBRI pada 27 Oktober 2014 yang lalu. Mengambil tema “Menuju Indonesia Emas 2045, Apa Peran Pemuda?”, diskusi kali ini mencoba merefleksikan kembali bagaimana sejarah panjang perjuangan pemuda dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia, pelajaran-pelajaran apa yang bisa kita petik, dan langkah yang harus kita ambil ke depannya untuk mewujudkan cita-cita mulia mewujudkan Indonesia Emas 2045. Diskusi kali ini menghadirkan tokoh yang tidak sembarangan, yaitu Prof. Salim Said. Beliau adalah sejarawan yang tidak hanya mempelajarinya tetapi juga menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Beliau juga aktif sebagai penulis buku dan sempat menjadi Duta Besar RI untuk Czech Republic.

Untuk mengawali diskusi, Prof. Salim melemparkan sebuah pertanyaan menarik yang selalu beliau utarakan di setiap kuliahnya, “Kapan konsep Indonesia pertama kali muncul?” Ini penting untuk memahami seperti apa sejarah panjang Indonesia untuk nantinya bisa kita proyeksikan ke depan. Prof. Salim menekankan bahwa ada proses panjang sebelum abad ke-20 yang berjalan sampai adanya konsep Indonesia. Dimulai dari Perang Padri dan Perang Diponegoro, konsep Indonesia kemudian mulai dirumuskan oleh Bung Hatta dan para pemuda Indonesia di Belanda lewat Indische Vereeniging. Puncak dari proses panjang ini adalah Sumpah Pemuda, dimana dianalogikan oleh Prof. Salim sebagai “ditiupkannya roh Indonesia ke kandungan Ibu Pertiwi yang bayinya sedang tumbuh.”

Di tengah diskusi, Prof. Salim menceritakan sebuah kisah tentang seorang tentara pelajar yang tertembak di Solo. Sesaat sebelum tentara ini meninggal, dia mengatakan kepada rekannya, “Nggak apa-apa (mati) demi Negara.” Sambil berkaca-kaca, Prof. Salim bertanya, “Pertanyaannya, Negara apa? Negeri ini belum punya apa-apa, baru proklamasi saja. Tapi sudah ada yang berani mati demi negaranya.” Sebuah sikap yang sangat luar biasa demi mengabdi dan berkarya untuk Indonesia.

Lantas, setelah mengetahui bagaimana konsep Indonesia, so what? Prof. Salim kembali melemparkan pertanyaan menarik : apa yang bisa dilakukan pemuda di masa sekarang? Menurut beliau, semuanya Dikembalikan lagi kepada para pemuda di masa sekarang. Masa depan bangsa Indonesia akan ditentukan oleh para pemuda, apakah kemerdekaan Indonesia bisa terus dipertahankan atau tidak. Prof. Salim berpendapat bahwa Indonesia hanya bisa bertahan jika demokrasi bisa berjalan, sebab jika tidak berjalan maka orang yang berkuasa akan memporak-porandakan kebebasan orang lain, dan itu adalah bibit-bibit perpecahan dan konflik. Sebagai pemuda, peran penting kita adalah menjaga demokrasi di Indonesia sehingga bisa tercipta kemakmuran untuk meningkatkan peradaban menuju Indonesia Emas 2045.

Diskusi berlangsung khidmat, serius, namun tetap hangat. Sesekali candaan dikeluarkan oleh Prof. Salim Said untuk mencairkan suasana. Peserta yang hadir pun antusias memaparkan ide-ide dan tanggapan yang menarik terhadap diskusi ini. Muhammad Kukuh Dewantara (Leiden University) menyinggung tentang sentimen identitas kesukuan masih cukup dominan di Indonesia, sedangkan Zulfadhli Nasution (ISS Den Haag) mengutip kembali hipotesis Prof. Salim Said terkait mana yang lebih dominan : demokrasi yang mempengaruhi kemakmuran atau sebaliknya. Ada juga Landha Mulya Putra (Erasmus University Rotterdam) melemparkan kekhawatiran bahwa bisa jadi ada pihak-pihak asing yang bersenang-senang dibalik penderitaan mereka yang tertindas. Terakhir, Hapsari Cinantya Putri selaku Sekjen PPI Belanda mengajak para pemuda untuk menjadikan momen Sumpah Pemuda sebagai kesempatan untuk refleksi diri mencoba mencari apa kontribusi nyata yang bisa kita lakukan serta merealisasikannya.

Lingkar Inspirasi PPI Belanda bersama Prof. Salim Said (Dokumentasi Pribadi)

Intisari dari acara ini dapat dibaca juga di : http://ppibelanda.org/lingkar-inspirasi-sumpah-pemuda-apa-peran-pemuda/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s