Apa Rasanya Tinggal di Eropa? (Refleksi perjalanan hidup setelah dua bulan tinggal di Belanda)

Halo para pembaca! Apa kabar? Akhirnya saya kembali menulis disini setelah beberapa kali absen. Lagi-lagi, sebenarnya saya ingin sekali bisa menulis rutin walaupun singkat, tapi apa daya ternyata faktor adaptasi terhadap lingkungan baru membuat saya cukup sulit menyempatkan diri menulis. Ide tentang tulisan kali ini pun sebenarnya sudah lama terlintas di otak dan ingin saya tulis sejak satu bulan saya ada disini, namun ternyata molor satu bulan, hahaha. Jangan ditiru ya kawan :p

Oke, back to topic. Saya ingin sedikit berbagi perjalanan saya sejak pertama kali menjejakkan kaki di tanah Eropa hingga saat ini. Jadi ceritanya kurang lebih dua bulan yang lalu, tepatnya 18 Agustus 2014 saya pergi meninggalkan tanah air tercinta untuk menuntut ilmu di negeri kompeni, Belanda. Kenapa Belanda? Nanti akan saya coba tuliskan di postingan terpisah yaπŸ˜€ singkat cerita, setelah melalui perjalanan udara yang menyenangkan selama 14 jam (menyenangkan karena kelas pesawat saya tiba-tiba diupgrade jadi business class :p) saya pun pertama kalinya menjejakkan kaki di Schiphol International Airport. Itulah kali pertama saya datang ke Eropa, dan saya sangat excited untuk bisa menjelajahi lebih dalam benua biru ini.

Kesan pertama? Anginnya dingin dan kenceng banget! Hahaha, beda cuaca yang sangat signifikan dengan Indonesia membuat saya cukup kaget. Disini cuaca cukup labil, kadang pagi cerah dan panas, namun 30 menit kemudian tiba-tiba bisa hujan deras. Cocok sepertinya buat mereka-mereka yang doyan melabil, hahaha. Saya juga cukup kagum dengan kedisiplinan orang-orang Belanda, dimana mostly mereka sangat on-time (ditunjukkan dengan public transportnya). Kesan lain yang didapatkan selama menjalani hidup disini adalah kebebasan berpendapat, mengutarakan opini di kelas itu sangat dihargai. Kita gak akan ditertawai apabila memberikan pertanyaan yang dasar sekalipun. Orang-orang sangat menghargai apa pendapat kita, bahkan apabila pendapatnya bertentangan sekalipun. Bisa dibilang ini sangat berbeda dengan di Indonesia, dan ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pelajar Indonesia disini untuk bisa menyesuaikan dengan kultur yang ada.

Anyway, dimanakah saya tinggal? Berhubung saya kuliah di Belanda bersama istri namun dengan kampus dan jurusan yang berbeda (saya di TU Delft jurusan Engineering & Policy Analysis dan istri di Leiden University jurusan Social & Organizational Psychology), maka kami memilih Leiden sebagai tempat tinggal. Kenapa di Leiden? Saya ingin istri saya bisa lebih praktis dan tidak perlu terlalu capek melakukan perjalanan kereta, jadi biarkan saya saja yang sedikit berkorban, hehe. Toh istri saya hanya menjalani studi selama 1 tahun, jadi mungkin setelah itu kami akan pindah entah ke Den Haag atau ke Delft. Nah, di Leiden kami tinggal di sebuah studio apartment yang cukup luas dan nyaman dengan harga yang terjangkau untuk berdua. Plus, lokasinya sangat dekat dengan Leiden Centraal dan kampus istri saya! Jadi setidaknya ini bisa menghemat pengeluaran istri saya J Kota Leiden sendiri menurut saya cukup nyaman untuk ditinggali, karena kota ini termasuk agak sepi dan kesan historis serta tua-nya sangat terasa. Banyak museum yang bisa dieksplor disini, salah satunya adalah Rijskmusem Volkenkunde yang menyimpan koleksi-koleksi sejarah dan budaya dari seluruh dunia. Bahkan Indonesia memiliki 1 section sendiri disini!

Bagaimana dengan akademik? Kuliah disini sungguh sangat berbeda dengan di Indonesia. Temponya sangat cepat, dan mostly kegiatan akademiknya difasilitasi dengan tugas kelompok. Menulis paper ataupun artikel menjadi makanan sehari-hari. Kemampuan membaca banyak buku ataupun jurnal dalam waktu singkat sangat penting untuk dimiliki. Belum lagi beban tugas yang sangat tinggi sehingga manajemen waktu menjadi kunci sukses untuk survive. Namun salah satu yang paling menarik adalah kesempatan kita untuk berinteraksi dengan mahasiswa internasional dengan kultur yang bervariasi. Ini akan menjadi poin penting yang bisa kita ambil terutama bagaimana kita bisa menerima perbedaan yang ada.

Di luar dari kenyamanan-kenyamanan yang dirasakan, tentu saja ada hal-hal yang terasa kurang. Disini (terutama Leiden) biaya hidup cukup mahal, jadi memang harus pintar berhemat dan pintar memasak. Makanan Indonesia bisa ditemui di sejumlah restoran, tapi jangan harap harga dan rasanya setara dengan waktu di Indonesia. Toilet pun tidak menggunakan air tapi menggunakan konsep toilet kering, jadi siap-siaplah menyesuaikan diri. Belum lagi tempat beribadah shalat yang terkadang sulit didapat. Tapi Alhamdulillah, saya sendiri selama ini tidak merasakan kesulitan karena baik di Delft ataupun Leiden terdapat masjid dan tempat shalat yang cukup memadai di area kampus.

Jadi, kesimpulan selama dua bulan tinggal disini apa? Buat saya, so far so good. Banyak pengalaman baru, teman-teman baru, tantangan baru, tapi semuanya harus bisa dijalani dengan baik. Saya dan istri saya sudah mendapatkan kesempatan berharga untuk studi disini, dan ini tidak boleh disia-siakan. Semoga semuanya lancar dan akhirnya kami bisa lulus dengan hasil yang memuaskan.

Our journey has just begun! (Dokumentasi Pribadi)

Our journey has just begun! (Dokumentasi Pribadi)

One thought on “Apa Rasanya Tinggal di Eropa? (Refleksi perjalanan hidup setelah dua bulan tinggal di Belanda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s