The Engagement Day

Semangat pagi pembaca!

Apa kabar kawan-kawan semua, mudah-mudahan selalu sehat walafiat ya! Izinkanlah saya sedikit menceritakan sebuah prosesi sakral yang baru saja saya lalui di awal November yang lalu, tepatnya 3 November 2013, yaitu prosesi lamaran. Ya, alhamdulillah satu tahapan penting dalam persiapan pernikahan saya dan calon istri sudah berhasil dilalui dengan baik. Karena memang perbedaan latar belakang daerah yang berbeda antara saya dan calon istri (saya Jawa dan calon istri Batak) maka prosesi lamaran sendiri menggunakan adat Batak sesuai dengan adat calon istri. Dan seperti proses lamaran pada umumnya, lamaran dilakukan di tempat calon istri, which is kami harus terbang ke Medan. Waw! Sebuah pengalaman baru buat saya dan sebagian besar anggota keluarga saya =)

Sebelum lebih jauh ke prosesi lamarannya ada sejumlah checklist yang harus dilengkapi, salah satunya adalah seserahan. Berbeda dengan adat Jawa yang memiliki acara midodareni atau penyerahan seserahan di H-1 akad nikah, pada adat Batak seserahan diberikan saat lamaran. Biasanya barang yang diberikan saat seserahan disiapkan oleh calon mempelai pria berdasarkan masukan calon mempelai wanita agar sesuai dengan seleranya =) Tentunya seserahan ini harus dibungkus dengan cantik agar indah dipandang mata. Salah satu tempat yang bisa dijadikan referensi untuk membeli kotak seserahan ini ada di Cikini. Nah, salah satu barang seserahan yang menarik adalah uang ingot-ingot, yaitu uang yang dihias sedemikian rupa dan nanti diserahkan kepada seluruh peserta lamaran. Selain itu akan ada juga pemberian tanda terima kasih berupa sarung dan amplop kepada orang-orang yang secara adat Batak layak untuk diberikan (saya lupa detilnya siapa saja hehehe). Tak lupa juga buah-buahan dan kue-kue disiapkan sebagai pelengkap seserahan.

Image

Uang Ingot-Ingot (Dokumentasi Shauma Lannakita)

Singkat cerita, sampailah pada acara lamaran yang dinanti. Saya dan keluarga sudah berdandan ganteng serta cantik. Setibanya di rumah calon mempelai wanita, kami mendapat sambutan yang hangat dari anggota keluarga dan dipersilahkan masuk oleh orang tua calon mempelai wanita. Ternyata rumah tersebut sudah disulap sedemikian rupa menjadi pelaminan yang sangat cantik. Disana keluarga besar dari calon mempelai wanita sudah duduk melingkar dan di depan pelaminan ada tiga orang raja (orang yang dituakan) yang nantinya akan memberikan keputusan apakah saya boleh melamar sang pujaan hati atau tidak. Sang calon mempelai wanita sendiri masih disembunyikan entah dimana.

Pelaminan dan Para Raja (Dokumentasi Pribadi)

Pelaminan dan Para Raja (Dokumentasi Pribadi)

Yang menarik lagi dari sesi lamaran adat Batak ini, jika biasanya di adat Jawa pihak pria dan wanita hanya diwakili oleh satu orang yang dituakan saja untuk menyampaikan maksud dan tujuannya, maka di adat Batak ini semua perwakilan keluarga dari calon mempelai wanita harus menyampaikan persetujuannya terkait permintaan keluarga calon mempelai pria. Persetujuannya sendiri disampaikan dalam bahasa Batak yang sejujurnya tidak kami mengerti sama sekali (harus banyak belajar nih =D) namun ada juga yang menyampaikan dalam bahasa Indonesia. Salah satu yang menarik adalah ketika ada pihak keluarga yang menyampaikan keberatannya atas niat saya melamar sang calon istri. Beliau bilang β€œanak saya sudah lama berniat melamar si Kitty tapi kami tunda-tunda terus sampai Kitty besar, tadinya mau kami lamar kemarin tapi anak kami biar tes CPNS dulu, eh begitu mau kami lamar hari ini ternyata sudah keduluan. Gak rela kami!” Pernyataan ini pun langsung disambut riuh oleh para hadirin. Tentunya hal ini bertujuan untuk menghangatkan suasana agar tidak tegang dan tetap rileks serta akrab. Satu persatu setiap anggota keluarga menyampaikan pendapatnya hingga semua anggota keluarga besar dari calon mempelai wanita menyetujui. Setelah semua berbicara, tibalah saatnya para raja memberikan keputusan. Berdasarkan masukan dari para anggota keluarga besar, para raja akhirnya menyetujui permintaan keluarga saya untuk menikahkan saya dengan sang pujaan hati, namun dengan sejumlah syarat yang harus disiapkan oleh calon mempelai pria. Syarat yang disebutkan antara lain adalah hasil panen padi dan perkebunan sejumlah sekian hektar dan uang ingot-ingot, namun sebenarnya syarat ini mengacu kepada seserahan yang sudah disiapkan. Oiya, pada jaman dahulu syarat ini baru akan dilengkapi beberapa minggu kemudian, artinya keluarga calon mempelai pria akan pulang dahulu untuk melengkapi syarat yang diminta, namun karena kondisinya tidak memungkinkan dan seserahan sudah disiapkan, maka prosesi ini dihilangkan dan langsung dipercepat dalam satu hari. Seserahan pun disusun sedemikian rupa di depan para raja-raja untuk dicek kelengkapannya. Setelah itu barulah sang calon mempelai wanita dibawa turun ke hadapan para hadirin. She look so gorgeous!

Seserahan (Dokumentasi Pribadi)

Seserahan (Dokumentasi Pribadi)

Sang Calon Mempelai Wanita (Dokumentasi Pribadi)

Sang Calon Mempelai Wanita (Dokumentasi Pribadi)

Tahapan terakhir dari acara ini adalah pemberian uang seserahan dari Ibu calon mempelai pria ke Ibu calon mempelai wanita dan terakhir diterima sang calon mempelai wanita. Metode pemberiannya sendiri cukup menarik karena menggunakan selendang dan uang seserahannya sendiri disimpan dalam sebuah dompet yang digedong dengan selendang tersebut. Terakhir, ibu saya menyematkan cincin tunangan kepada calon istri saya. Cincin ini sendiri adalah cincin turun temurun dari nenek saya sehingga memiliki nilai historis yang cukup tinggi. Mudah-mudahan nantinya cincin ini bisa diteruskan saat anak saya menikah nanti =) Di akhir acara ini juga ada pembagian uang ingot-ingot kepada para hadirin sebagai tanda pengingat tentang acara lamaran ini. Acara pun ditutup dengan foto bersama dan makan siang bersama.

Pemberian Uang Seserahan (Dokumentasi Pribadi)

Pemberian Uang Seserahan (Dokumentasi Pribadi)

IMG_7326

Penyerahan Cincin (Dokumentasi Pribadi)

Alhamdulillah, satu tahap telah selesai dilalui. Semoga segala tahapan kedepannya lancar hingga hari H. Saya juga memohon doa dari para pembaca semua, mudah-mudahan yang mendoakan pun bisa enteng jodoh, amin! Sampai jumpa pada tulisan selanjutnya!

Foto Bersama (Dokumentasi Pribadi)

Foto Bersama (Dokumentasi Pribadi)

2 thoughts on “The Engagement Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s