Perjuangan Mendukung Merah Putih #1 : Berburu Tiket

Pada hari sabtu kemarin, 23 Maret 2013, timnas Indonesia menjalani salah satu laga penting dalam babak kualifikasi Piala Asia 2015. Laga ini berlangsung di stadion utama Gelora Bung Karno dengan lawan yang susah-susah gampang yaitu Arab Saudi. Nah, sebagai pecinta sepakbola dan pendukung setia tim nasional Indonesia, saya pun menyiapkan seluruh jiwa dan raga saya untuk bisa hadir dan mendukung Boaz Salosa dan kawan-kawan langsung di GBK. Cerita perjuangan saya bersama kawan-kawan akan saya coba bagikan kepada pembaca lewat tulisan ini.

Perjalanan saya awali pada hari Sabtu pagi. Bagi mereka yang ingin menonton langsung di GBK tentu sudah tahu bahwa tiket hanya dijual saat hari H mulai jam 9 pagi di 4 loket saja. Artinya sejak pagi kami harus sudah mengantri di loket-loket yang telah disediakan. Akhirnya saya dan teman-teman sepakat untuk bertemu di GBK sekitar pukul 8 pagi dan mengantri bersama-sama. Challenge Accepted. Saya berangkat jam 7 pagi dari rumah dan sudah tiba di GBK jam setengah 8 pagi. Beres mencari tempat parkir, saya mencari-cari loket pembelian tiket yang menyediakan kategori yang kami inginkan. Kebetulan kami ingin membeli tiket kategori 2, dan berdasarkan info yang ada tiket kategori ini hanya dijual di loket Al-Bina serta loket Pintu Timur.

Setelah mengetahui tempat loket yang dimaksud, saya bertemu dengan dua kawan saya yang juga telah tiba di GBK, Mushofi (@ahmadmusz) dan Aud (@audhiarezaa). Di tengah perjalanan kami menuju loket Al-Bina, kami melihat shooting Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan yang sedang membahas tentang prediksi laga Indonesia vs Arab Saudi. Terlihat ada Nil Maizar dan Tommy Welly sebagai narasumber. Sungguh malang nasib Nil Maizar, nasibnya hingga saat ini belum jelas karena kabarnya belum mendapat SK Pemecatan. Anyway, kami terus berjalan dan akhirnya tiba juga di loket yang dimaksud. Well, antrian ternyata sudah cukup panjang. Prediksi saya, ada yang sudah mengantre disini sejak jam 6 pagi. Bahkan mungkin saja ada yang menginap disini.

Image

Antrian Pemburu Tiket di Loket Al-Bina (Dokumentasi Pribadi)

Kami pun segera bergabung dengan antrian para manusia yang sudah sangat panjang ini. Harap-harap cemas menyelimuti perasaan kami, apakah kami akan mendapat tiket? Apakah 1 orang hanya bisa 1 tiket? Dan apakah kami harus gigit jari karena tidak mendapat tiket? Semua pertanyaan ini baru bisa terjawab setelah loket dibuka pada jam 9 pagi. Sambil menunggu, saya terus mengontak 1 orang kawan saya lagi yang bernama Ijul (@teukuzulfikar). Ternyata si sopir taksi yang membawa Ijul ke GBK kurang memiliki spirit untuk mendukung Indonesia sehingga Ijul turun di tempat yang salah. Setelah saya memberi petunjuk lokasi, Ijul pun bergabung dengan kami namun dengan antrian yang jauh di belakang.

Sambil menunggu loket dibuka kami ngobrol santai tentang berbagai hal. Tak jarang kami juga berinteraksi dengan para pemburu tiket lainnya. Ada bapak-bapak idealis yang berpenampilan seperti Sergio van Dijk yang mengeluhkan ketidaksiapan panpel dalam melayani masyarakat yang antusias menyambut laga ini. Ada juga seorang pemuda yang jauh-jauh datang dari Kalimantan demi mendukung Merah Putih. Sungguh semangat dan loyalitas yang patut diacungi jempol dari para supporter Indonesia. Oiya, kami juga sempat melihat Nil Maizar pergi keluar GBK sambil melewati antrean pemburu tiket. Beliau pergi sendiri, tanpa kawalan, dan mungkin tanpa ada yang mengenali beliau. Once again, poor him. He deserves a better chance next time.

Dan akhirnya, saat-saat yang dinantikan pun tiba. Penjualan tiket dibuka dengan kondisi molor 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Para pengantre pun sangat antusias sampai-sampai langsung merangsek dan berdesak-desakan ke depan. Saya pun harus berhati-hati menjaga barang bawaan saya karena rentan dengan copet. Sial bagi saya, Mushofi, dan Aud, nampaknya barisan tempat kami mengantri memiliki laju pelayanan yang cukup lambat. Dan beruntung bagi kawan saya Ijul, dia mengantri di tempat dengan laju pelayanan yang jauh lebih cepat. Buktinya tiba-tiba dia langsung merangsek ke depan dan akhirnya mendapat tiket lebih awal dibanding kami yang sudah mengantre jauh lebih lama. Memang si makhluk gendut yang satu ini hokinya tidak pernah hilang. Anyway, berita baik yang kami dapatkan adalah ternyata 1 orang dapat membeli maksimal 5 tiket, sehingga saya dapat membeli tiket lebih untuk teman-teman saya yang lain (akan saya kenalkan di tulisan selanjutnya).

Image

Proses Transaksi Pembelian Tiket (Dokumentasi Pribadi)Β 

Dan setelah hampir 45 menit bersabar, akhirnya tiket yang dicari sudah berada dalam genggaman. Alhamdulillah. Saya bersyukur karena proses pembelian tiket cukup lancar dan tertib. Tidak terjadi kerusuhan-kerusuhan yang mungkin dikhawatirkan terjadi mengingat penjualan tiket yang hanya dilakukan langsung on the spot pada hari H pertandingan. Saya sendiri sebenarnya agak menyayangkan keputusan panpel yang tidak menjual tiket secara online ataupun menjual tiket beberapa hari sebelumnya, padahal antusiasme masyarakat sangat tinggi. Mudah-mudahan hal ini bisa diperbaiki di laga-laga timnas Indonesia berikutnya.

Image

Tiket Kategori 2 Indonesia vs Arab Saudi (Dokumentasi Pribadi)

Perburuan tiket telah selesai. Saatnya bersiap mendukung merah putih! Di tulisan berikutnya saya akan berbagi tentang seperti apa suasana di stadion sebelum, selama, dan setelah pertandingan berlangsung. Jangan dilewatkan ya!πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s