Bagaimana Rasanya Naik Transjakarta?

Saya bukanlah lulusan teknik sipil ataupun planologi. Saya bukan pula ahli transportasi. Saya hanyalah seorang lulusan teknik telekomunikasi yang peduli dengan kota Jakarta dan transportasinya. Jadi tulisan ini hanyalah sebuah opini sotoy belaka๐Ÿ˜€

Transjakarta, Transportasi Publik andalan warga Jakarta (Sumber : id.wikipedia.org)

Sudah sekitar satu bulan saya akrab dengan bus Transjakarta. Transportasi publik yang satu ini kini menjadi andalan saya dalam mengarungi jalanan Jakarta yang terkenal kejam terutama kemacetannya. Setidaknya saya memiliki dua alasan yang membuat saya memilih moda transportasi ini.

Pertama, lokasi kantor tempat saya magang yang terlalu jauh. FYI, saya tinggal di daerah Pondok Kelapa (Jakarta Timur) dan lokasi kantor saya berada di Medan Merdeka Barat. Setiap hari saya berangkat bersama Ayah saya yang kantornya berada di daerah Pattimura. Artinya mau tidak mau saya harus menggunakan Transjakarta dari kantor Ayah untuk menuju ke kantor. Untuk pulang pun saya harus menggunakan moda transportasi ini hingga Kampung Melayu dengan transit beberapa kali untuk menghemat ongkos.

Kedua, saya ingin mencoba percaya dengan transportasi publik yang ada di Jakarta. Saya ingin menjadi bagian dari warga Jakarta yang berkomitmen mengurangi kemacetan dengan beralih ke transportasi publik. Komitmen ini saya tunjukkan dengan membeli tiket elektronik Transjakarta untuk mempermudah transaksi sehingga lebih cepat dan ramah lingkungan (artikel tentang ini saya tulis disini). Ini berarti saya siap untuk terus memanfaatkan Transjakarta sebagai salah satu (atau satu-satunya?) transportasi publik andalan warga Jakarta.

Tiket Elektronik BRIZZI dari Bank BRI. Bukti komitmen saya untuk terus naik Transjakarta (Dokumentasi Pribadi)

Dari pengalaman menjadi pengguna setia Transjakarta selama ini, saya mencoba memberikan penilaian dari 2 aspek yaitu aspek kenyamanan dan ketepatan waktu. Saya pikir kedua aspek ini yang paling penting dan sangat menentukan bagi masyarakat untuk mau beralih ke transportasi publik. Oiya, koridor yang selalu saya gunakan sendiri adalah Blok M-Kota, Pulogadung-Dukuh Atas, dan Ancol-Kampung Melayu. Jadi, penilaian saya hanya mengacu pada tiga koridor tersebut dan belum tentu terjadi pada koridor lainnya.

Oke, mari kita mulai dari aspek kenyamanan. Jika dinilai secara rata-rata, bisa dibilang sudah sangat sedikit bus Transjakarta yang benar-benar nyaman untuk ditumpangi. Lantainya sudah banyak yang mengelupas, pintu otomatis sudah sulit dibuka dan tidak bisa menutup dengan sempurna, pendingin yang hanya angin saja, dan masih banyak lagi. Hanya bus transjakarta baru yang kenyamanannya masih sangat terjaga, tapi bus ini masih terbatas hanya di koridor Blok M-Kota dan belum ada penambahan di koridor lain.

Jarang sekali bisa naik Transjakarta dengan kondisi nyaman seperti ini (Dokumentasi Pribadi)

Nah, itu adalah kenyamanan dari sisi kendaraannya. Bagaimana dengan sopir dan petugasnya? Well, dari cara para sopir berkendara sepertinya saya harus memberi penilaian average saja karena para sopir kerap kali mengerem mendadak sehingga membuat para penumpang kaget bahkan hingga terjatuh. Ini sebenarnya tidak hanya bergantung pada si sopir tapi juga kondisi jalur transjakarta itu sendiri, apalagi 2 koridor selain Blok M-Kota yang saya lalui sering sekali tidak steril. Akibatnya para sopir harus banyak mengerem karena banyak pengendara kendaraan lain yang tak tahu malu yang nekat menerobos jalur transjakarta. Untuk petugasnya sendiri, lagi-lagi hanya koridor Blok M-Kota yang kualitasnya paling baik. Para petugas ada di setiap pintu bus dan bisa mengontrol penumpang yang masuk dengan baik. Hal ini tidak terjadi di koridor lain, sehingga penumpang terus-menerus masuk tanpa memedulikan isi bus yang sudah penuh sesak dan tak mampu bergerak sama sekali.

Berikutnya kita beralih ke aspek ketepatan waktu. Aspek ini menurut saya yang harusnya menjadi kunci dari transportasi publik, mengingat tujuan awalnya adalah untuk mengurangi kemacetan. Agar masyarakat mau beralih ke transportasi publik, tentunya waktu tempuhnya harus sesingkat mungkin dengan waktu transit antar halte yang konsisten. Sayangnya lagi-lagi hal ini tidak dapat kita temukan di bus Transjakarta. Saya sudah berkali-kali memotret momen dimana saya harus mengantri sangat panjang dengan jangka waktu hingga 30 menit untuk menunggu kedatangan bus Transjakarta, padahal idealnya mungkin hanya butuh 2-3 menit saja. Akibatnya apa? Banyak waktu yang terbuang untuk menunggu dan akhirnya kita tidak mendapat kenyamanan yang diinginkan mengingat bus jadi penuh sesak. Ingin untung, malah buntung.

Salah satu antrian terpanjang yang pernah saya alami (Dokumentasi Pribadi)

Ada dua hal yang menurut saya menjadi penyebab keterlambatan bus Transjakarta. ย Yang pertama adalah kurangnya bus yang beroperasi, dan yang kedua adalah tidak sterilnya jalur Transjakarta sehingga mengurangi laju bus. Pemprov DKI Jakarta sendiri telah berencana menambah jumlah bus Transjakarta yang beroperasi sehingga diharapkan poin pertama bisa diselesaikan. Poin kedua sendiri menurut saya cukup sulit untuk dibenahi, mengingat ini lebih ke masalah mentalitas masyarakat Jakarta yang hanya ingin enaknya saja. Jalur Transjakarta bisa dibilang memang menjadi santapan lezat bagi mereka yang enggan bermacet-macet ria namun juga tak tertarik untuk beralih ke transportasi publik, sehingga yang mereka lakukan adalah masuk jalur Transjakarta dengan kendaraan pribadi mereka. Sayangnya, para penegak hukum pun seperti setengah-setengah dalam menindak mereka yang jelas-jelas melanggar peraturan seperti ini. Akhirnya kemacetan Jakarta pun semakin sulit untuk diurai. Lagi-lagi, ingin untung malah jadi buntung.

Masuk Jalur Transjakarta, Like a Boss! (Dokumentasi Pribadi)

Well, terlepas dari semua kekurangan yang saya sebutkan, saya masih percaya bahwa Transjakarta masih sangat dibutuhkan sebagai salah satu solusi mengatasi kemacetan Jakarta. Perbaikan-perbaikan terus dilakukan, seperti pemberlakuan tiket elektronik dan penambahan bus-bus baru. Tentunya Transjakarta tak bisa berjuang sendirian. Mereka butuh โ€œpartnerโ€ untuk bersama-sama mengalahkan musuh besar bernama kemacetan, yaitu Monorail, MRT, dan tentunya kita sebagai warga Jakarta. Saya sendiri sudah tak sabar untuk melihat kelahiran Monorail dan MRT yang akan saling bahu-membahu mengalahkan kemacetan Jakarta. Dengan munculnya berbagai pilihan transportasi publik, saya yakin warga Jakarta akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi publik sehingga Jakarta bisa terbebas dari kemacetan. Semoga hal ini bisa terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s