Ketololan Malam Hari

Hari ini saya tolol sekali.

Jadi ceritanya saya ingin mencetak CV untuk keperluan menjajakan diri melamar kerja di career day besok. Berhubung banyak perusahaan yang datang maka jumlah CV yang harus dicetak pun banyak. Sedangkan printer di kosan kondisinya sudah naas dan tak bisa digunakan lagi.


Saya tak punya pilihan. Meluncurlah saya dengan sepeda kuning kesayangan saya ke arah Cisitu, dimana disitu ada rental printer yang cukup bisa diandalkan. Tak lupa saya membawa uang sebagai ucapan terima kasih kepada si penjaga rental. Sepuluh ribu rupiah saya pikir cukup, karena itu saya tidak membawa dompet dan hanya membawa si uang berwarna merah (atau ungu ya? Lupa deh).

Singkat cerita, tibalah saya di rental printer ini. Berhubung ramai maka saya harus mengantri dulu. Untung saja tak perlu mengantri lama. Tapi ternyata sedang musim ya mencetak CV, buktinya sebelah saya juga sedang mencetak CV. Tapi nasibnya sial saja karena si printer macet. Siapa suruh pakai printer warna. Hahaha. Anyway, untuk menghemat waktu maka saya memilih untuk mencetak dengan warna hitam putih saja. Lebih cepat dan lebih murah. Toh muka saya tetap ganteng walaupun fotonya hitam putih.

Setelah selesai, saya pun bersiap membayar. Namun sungguh aneh tapi nyata, si uang sepuluh ribu rupiah itu hilang! Padahal beberapa detik sebelumnya uang itu masih saya pegang ketika saya mengeluarkan USB. Saya rogoh-rogoh lagi kantong saya siapa tahu bisa mengeluarkan duit yang lebih banyak macam kantong ajaib, namun ternyata nihil. Saya amati sekitar saya tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda adanya uang saya. Terpaksa saya pulang kembali mengambil uang di dompet.

Dengan ngos-ngosan saya berhasil tiba di kosan dengan selamat. Tanpa pikir panjang saya kembali mengambil uang sepuluh ribu rupiah yang masih ada di dompet. Cukup lah dengan sepuluh ribu saja, pikir saya. Dengan optimisme tinggi saya kembali berjuang membelah malam menuju rental printer kembali. Setibanya disana, saya menyapa si penjaga rental yang tadi melayani saya :

A : “Mas, saya yang tadi ambil duit dulu buat bayar. Berapa ya jadinya?”
B : “Oh, ini mas print-annya. Tiga belas ribu ya mas.”
A : “(shock)…Waduh, saya cuma bawa sepuluh ribu mas.”
B : “yaudah nanti aja mas gapapa.”

Seketika itu juga badan saya lemas. Saya harus kembali lagi ke kosan hanya untuk mengambil tiga ribu rupiah! Tau begitu saya lebih baik bawa dompet saja kesana -_- Dengan segala sisa tenaga yang ada akhirnya saya berhasil mengambil uang tiga ribu rupiah dan menyerahkannya kepada si penjaga rental. Dan Alhamdulillah pula saya berhasil tiba kembali di kosan dengan selamat. 

Tentu ada segala manfaat dari apa yang saya alami. Poin positifnya adalah saya bisa berolahraga di malam hari, namun saya harus membuang-buang waktu dan tenaga untuk hal yang tidak perlu. Jadi, hikmahnya adalah pastikan anda selalu membawa dompet kemanapun anda pergi, walaupun hanya untuk sekedar mencetak berkas.

Ingin Bukan Berarti Butuh

Beberapa hari yang lalu saya baru saja mendapat e-mail dari perusahaan yang saya apply. Intinya adalah saya belum mendapat kesempatan untuk berkarir disana. Ada perasaan sedih memang, mengingat perusahaan ini adalah salah satu target saya sejak lama. Tapi kesedihan itu sendiri tidak terlalu mendalam. Mengapa?


Secara pribadi, saya sangat ingin untuk bisa berkarir di perusahaan yang katanya merupakan IT company terbesar di dunia tersebut. Entah apa yang membuat saya sangat ingin disana. Mungkin karena banyak senior yang saya kenal telah lebih dulu berada disana. Padahal dari sisi keilmuan pun tidak terlalu berhubungan dengan apa yang telah saya pelajari. Bahkan saya sendiri tidak tahu banyak tentang perusahaan tersebut. Tapi saya tetap saja punya keinginan yang besar.

Di sisi lain, saya tiba-tiba mengalami keraguan terutama setelah selesai menjalani wawancara terakhir. Saya sempat bertanya dalam hati, “apa iya ini adalah yang benar-benar saya inginkan?”. Sepertinya ada pergolakan tersendiri walaupun saya juga ingin untuk berkarir disana. Tapi rasa ketidaktahuan dan ketakutan akan masa depan sepertinya terlalu besar untuk saya hadapi. Saya khawatir bahwa ini bukan yang cocok buat saya. Khawatir juga kalau nantinya ekspektasi saya tidak sesuai dengan realita yang ada. Itulah yang membuat saya ragu.

Di tengah keraguan itu, memang yang paling benar adalah memohon jawaban kepada Sang Pencipta. Dia yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Doa saya sederhana saja : 

Ya Allah, jika memang ini yang terbaik maka terimalah saya di perusahaan tersebut. namun jika bukan yang terbaik maka pertemukanlah saya dengan “jodoh” saya suatu saat nanti.

Saya ulang doa tersebut terus-menerus. 
Dan akhirnya beberapa hari yang lalu saya dapatkan jawabannya.
Saya tidak diterima.
Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendapat sesuatu yang kita inginkan, tapi jika Allah tak mengizinkan maka kita pun hanya bisa menerima dengan lapang dada. Mungkin yang kita inginkan memang bukan yang kita butuhkan, dan Allah sangat mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Semoga segera dipertemukan dengan yang lebih baik. Amin.