Tangkuban Perahu Hiking Trip : Jalan-Jalan Biasa yang Tidak Biasa! (3)

Puncak tangkuban perahu sudah kami capai, saatnya mencari jalan pulang. Karena itu tujuan kami berikutnya adalah ke sisi lain tangkuban perahu, sisi yang biasanya merupakan tempat para pengunjung untuk menikmati suasana disini. Ada dua jalur yang bisa ditempuh, jalur yang “katanya” cukup ekstrim dan jalur yang biasa saja. Jalur pertama disebut ekstrim karena “katanya” jalannya cukup kecil dan curam. Konon katanya sebelah kiri jalan langsung bertemu dengan jurang. Namun pemandangan yang bisa didapat di jalur pertama sangat indah dan bisa langsung turun ke area bawah dari gunung ini. Sedangkan jalan kedua jauh lebih aman dan lebih dekat ke tempat tujuan kami.



Akhirnya kami memutuskan untuk membagi rombongan menjadi 2 tim. Saya sendiri memilih untuk ikut ke jalur kedua karena ketakutan saya akan ketinggian. Saya agak khawatir andai tiba-tiba mengalami kepanikan dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi saya tidak mau ambil resiko. Bersama saya ada Sandy, Caca, Iqbal, Hakim dan Manaor. Sedangkan sisanya memilih untuk menantang maut mencoba jalan yang ekstrim.


Pejuang yang menantang maut
(Dokumentasi Pribadi)

Berangkatlah kami semua melalui jalur masing-masing. Sepanjang perjalanan saya menemukan fakta bahwa jalur yang cukup “aman” pun ternyata bisa dibilang lumayan ekstrim. Ini karena kami harus melalui berbagai turunan yang berbatu dan sangat sulit dilalui. Sepanjang perjalanan kami benar-benar harus hati-hati karena bisa saja kami tersandung hingga jatuh. Hal ini terutama berlaku buat saya karena saya hanya memakai sandal jepit. Jika sandal saya putus, maka berakhir sudah perjalanan saya.


Sekitar satu jam kami berjalan, akhirnya sampai juga kami di area wisata dari tangkuban perahu. Kondisi fisik yang sudah cukup lelah membuat kami memilih rehat sejenak sebelum lanjut ke meeting point yang sudah disepakati. Tapi kami terlalu berleha-leha sehingga mager dan memutuskan untuk mengubah meeting point menjadi area wisata ini. Sayangnya, sinyal telepon disini sangat sulit sehingga kami gagal menghubungi rombongan jalur pertama. Untunglah mereka cukup berinisiatif untuk segera bergerak sehingga kami menemukan mereka telah tiba di area ini. Dan ternyata jalur yang “katanya” ekstrim itu tidak seekstrim yang diceritakan karena faktanya perjalanan mereka lancar-lancar saja, bahkan banyak pemandangan yang menarik yang mereka abadikan.

Para pejuang ekstrim di area yang “katanya” ekstrim
(Dokumentasi : Andro Suryo) 

Perjalanan kami pun akhirnya usai. Sebelum akhirnya pulang kami memilih untuk istirahat sholat dan makan siang disini. Sungguh perjalanan yang luar biasa, bukan dari sisi tempat yang dicapai namun dari bagaimana cara kami mencapainya. Mungkin hal ini bisa juga jadi pelajaran dalam hidup. Tak semua harus dinilai dari hasilnya. Ada parameter lain yang disebut parameter proses, dimana terkadang prosesnya sendiri justru lebih indah dan menyenangkan dibanding hasilnya itu sendiri. Karena itu, nikmatilah segala proses hidup yang kalian hadapi karena selalu ada hikmah dibalik semuanya. Oiya, buat kalian yang belum pernah naik gunung dan ingin mencoba, mungkin jalur yang kami tempuh ini bisa menjadi awalan. Selamat menikmati sensasinya!

Para pejuang tangkuban perahu, minus saya tentunya
(Dokumentasi Pribadi)

Bubur Savoy, Santapan Nikmat di Malam Hari

Dokumentasi Pribadi

Bubur ayam adalah santapan yang biasanya kita makan saat pagi hari. Makanan ini menjadi salah satu pilihan untuk sarapan karena mudah dicerna dan simpel. Jika sedang bingung mau makan apa ataupun bosan dengan makanan yang itu-itu aja, bubur ayam bisa menjadi solusi.



Nah, bagaimana rasanya jika kita makan bubur ayam di malam hari? Buat anda-anda yang ada di Bandung, mungkin bisa mampir ke Jalan Asia Afrika di depan hotel Savoy Homann saat malam hari. Disana ada penjual bubur ayam yang rasanya sangat nikmat. Biasanya tukang bubur ini disebut Bubur Savoy, mungkin karena dia berdagang di depan hotel ini. Walaupun makanannya hanya bubur, namun pembelinya sangat banyak. Ini bisa terlihat dari banyaknya mobil yang parkir di sepanjang jalan asia afrika. Mereka datang dari berbagai wilayah di Bandung dan sekitarnya hanya untuk mencicipi bubur ini.


Lantas apakah rasanya seenak itu sampai-sampai banyak yang mampir? Ya, menurut saya rasanya cukup enak. Rasanya satu porsi tidak cukup untuk membuat lidah ini puas. Tapi harganya bisa dibilang cukup mahal untuk ukuran bubur, 15 ribu rupiah per porsi. Namun suasana malam jalan Asia Afrika yang cukup menarik di malam hari membuat harga tersebut cukup sepadan. Buat anda-anda yang sedang berada di Bandung dan senang berwisata kuliner, mungkin bubur ini bisa menjadi salah satu pilihan yang bisa anda cicipi. Selamat menikmati.

Tangkuban Perahu Hiking Trip : Jalan-Jalan Biasa yang Tidak Biasa! (2)

Setelah berjalan mendaki gunung lewati lembah dan melihat berbagai pemandangan yang indah, kami memasuki area yang cukup sulit yaitu hutan. Guide kami yaitu Iqbal memang sudah memperingatkan bahwa kami akan melalui hutan, namun ternyata hutan yang kami lalui ini jauh lebih sulit dan lebih berbahaya dibanding yang pernah Iqbal lewati dahulu. Jalan yang sempit (bahkan bisa dibilang tidak ada jalan) ditambah tanah yang rentan longsor membuat kami harus ekstra hati-hati. Belum lagi ancaman hewan-hewan seperti lebah yang terkadang muncul tiba-tiba. Tanaman berduri pun siap merobek kulit kami jika kami sembarangan dalam mencari pegangan. Tak jarang kami juga menemukan pohon yang menutupi jalan sehingga kami harus merangkak dan berjalan menyamping layaknya model di iklan WRP.



Saya sendiri sempat khawatir bahwa kami tidak akan bisa keluar dari hutan ini, mengingat hampir satu jam kami terjebak dan belum ada tanda-tanda bahwa kami menuju jalan yang tepat. Tapi kami semua tetap optimis dan saling membantu selama perjalanan. Optimisme kami ini akhirnya membuahkan hasil karena kami mendengar suara motor di dekat kami, yang artinya kami menuju jalan yang tepat! Dan benar saja, tak lama kemudian kami telah sampai di jalan setapak nan berbatu. Perjuangan keras kami di dalam hutan pun tak sia-sia. Alhamdulillah, kami semua masih diberi kesempatan hidup oleh Allah.

Masih lengkap gan!
(Dokumentasi Pribadi)

Kerasnya perjalanan kali ini pun memakan korban yaitu sandal gunung saya. Kondisinya menjadi mengenaskan dan akhirnya tak dapat dipakai kembali. Beruntung teman saya Farid membawa sandal cadangan walaupun hanya sandal jepit. Tak apalah, yang penting bisa dipakai. Kapan lagi kan naik gunung memakai sandal jepit? :)) Anyway, perjalanan berlanjut dengan menyusuri jalan berbatu yang cukup lebar dan membosankan. Ya, dibandingkan dengan petualangan di hutan, jalanan ini memang kurang memiliki tantangan. Tapi karena jarak dengan puncak tangkuban perahu masih jauh maka kita harus terus berjalan.

Challenge Accepted : Naik gunung dengan sandal jepit
(Dokumentasi Pribadi)

Satu jam kami berjalan, akhirnya ada tanda-tanda bahwa kami semakin dekat.  Sebuah batu yang berada di tengah persimpangan jalan membuat kami mengambil jalan ke kanan. Jalanan menjadi lebih sempit dan lagi-lagi menjadi seperti selokan. Namun tak lama kemudian kami pun tersenyum, karena kami telah tiba di puncak Gunung Tangkuban Perahu! Pemandangannya sungguh luar biasa, terlebih karena lokasi pendakian kami bukan lokasi yang biasanya dilalui oleh masyarakat umum. Alhamdulillah, perjuangan kami terbayarkan juga.


Nampang dulu boleh lah ya
(Dokumentasi Pribadi)

Bersambung…

Ramadhan Datang!

Wah, tak terasa esok hari kita telah memasuki bulan Ramadhan kembali. Rasanya baru kemarin deh kita puasa, tau-tau sudah mau puasa lagi. Mudah-mudahan bulan Ramadhan kali ini bisa memberikan manfaat untuk kita semua ya! Yuk rame-rame meningkatkan kualitas diri di bulan yang suci ini. Dan khusus buat saya dan teman-teman yang sedang mengerjakan Tugas Akhir, semoga Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir sebagai mahasiswa ITB ya! Amin amin amin!


Selamat berpuasa!

Sumber : http://myhavies.blogspot.com

Tangkuban Perahu Hiking Trip : Jalan-Jalan Biasa yang Tidak Biasa! (1)

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang kegiatan jalan-jalan saya kemarin. Objek yang dituju adalah Gunung Tangkuban Perahu. Bisa dibilang bukan objek yang seru dan cukup menarik karena untuk mencapainya sendiri bisa dengan memakai kendaraan, namun yang membuatnya berbeda adalah bagaimana cara menuju kesana yaitu dengan jalan kaki alias hiking! Ya, berhubung saya dan kebanyakan teman-teman saya belum pernah merasakan naik gunung, jadi tidak ada salahnya untuk mencoba hal ini. Tangkuban perahu dipilih sebagai objek karena tidak terlalu jauh dan bisa dibilang cukup mudah.



Singkat cerita, pasukan dan perlengkapan pun disiapkan. Rencana telah diatur jauh-jauh hari agar bisa berangkat dengan nyaman. Dan inilah para pejuang ET08 yang siap mempertaruhkan nyawa demi menuju puncak tangkuban perahu.

Dokumentasi Pribadi

Berangkatlah kami semua dari kampus ITB pukul 7 pagi. Villa istana bunga menjadi tujuan kami karena dari sanalah pendakian dimulai. Kami pun segera menyusuri jalan setapak yang ada disana. Perjalanan disini masih cukup mudah, yang menantang hanyalah tanjakannya yang cukup menguras stamina. Tapi rasa lelah yang mendera di awal perjalanan ini terbayarkan oleh pemandangan indah yang mungkin sudah jarang ditemukan di tengah kota Bandung.


Dokumentasi Pribadi

Medan kami menjadi sedikit lebih sulit setelah 30 menit perjalanan karena kami mulai masuk area kebun teh. Jalanan menjadi sempit dan lebih mirip selokan. Tapi perjalanan tetap menarik dan menyenangkan. Mungkin seperti salah satu adegan di petualangan Sherina ya. Panas terik yang kami rasakan disini tidak menggoyahkan semangat kami untuk terus bisa menuju puncak. Tak jarang juga saya dan teman-teman menemukan sejumlah objek menarik untuk didokumentasikan.

Dokumentasi Pribadi
Satu hal yang membuat saya sedikit kaget adalah ternyata kami akan melewati hutan walaupun cuma sebentar. Saya kaget karena saya tidak mempersiapkan untuk hal ini, sehingga saya hanya memakai celana pendek dan sandal gunung. Tapi tak apa, demi merasakan puncak tangkuban perahu harus tetap semangat gan! Kami sempat tersasar di tengah perjalanan karena Iqbal selaku guide lupa dimana jalan yang seharusnya dilewati. Untungnya kami menemukan jalan yang kami anggap benar, dan ternyata merupakan hutan belantara. Well, medan yang kami lalui di hutan ini sungguh luar biasa dan tidak akan terlupakan. Seperti apa medannya? Tunggu saja di cerita berikutnya! 😀

Foto terakhir sebelum masuk hutan. Apakah akan tetap tersenyum setelah keluar hutan?
(Dokumentasi Pribadi)

Udah Masuk ITB, Terus Ngapain? (Tips Agar Survive Dan Sukses Di ITB)

Halo semuanya!
Pertama-tama saya ingin mengucapkan SELAMAT buat kalian yang sudah diterima di ITB lewat jalur undangan. Buat kalian yang masih menunggu pengumuman SNMPTN, saya doakan semoga kalian semua diterima (amin!). Nah, kalau nantinya tidak diterima, jangan bersedih hati ya! Insya Allah masih ada lain kesempatan 🙂
Oke,tulisan ini akan saya tujuan buat kalian yang sudah berhasil masuk ITB. Tentunya ada perasaan bangga dan senang yang kalian rasakan bukan? Hal ini pastinya wajar dong, karena masuk ITB itu memang susah. Tapi apa perjuangan kalian sampai disitu saja? Tentu tidak! Bertahan di ITB itu jauh lebih susah loh! Dan sebenarnya banyak sekali hal-hal yang bisa kalian lakukan selama kalian di ITB. Jangan sampai kalian menyesal nantinya, karena penyesalan selalu datang belakangan.
Lantas, apa saja yang harus kalian lakukan supaya bisa survive dan sukses di ITB? Berikut ini adalah sedikit tips dari saya.

1. Belajar sungguh-sungguh!
Ini udah pasti menjadi sesuatu yang mutlak harus kalian lakukan. Saya yakin kalian semua yang berhasil masuk ITB adalah orang-orang pintar, namun untuk bisa bertahan di ITB butuh lebih dari sekedar pintar. Kesungguhan yang luar biasa benar-benar dibutuhkan untuk bisa bertahan menghadapi kerasnya dunia perkuliahan. Dan kalau kalian tidak rajin dan belajar dengan sungguh-sungguh, niscaya kalian akan gagal. Percayalah, sudah banyak yang menjadi korban keganasan ITB, dan ini disebabkan karena mereka malas. Saya tidak ingin kalian seperti mereka.
2. Bergabunglah dengan Unit Kegiatan Mahasiswa dan Himpunan
Study-oriented itu tidak masalah, yang jadi masalah adalah jika kalian memilih untuk study-oriented only. ITB itu tidak hanya untuk kalian belajar akademik, tapi juga untuk mengembangkan kualitas diri kalian. Jangan cuma jadi mahasiswa yang KUPU-KUPU (Kuliah Pulang Kuliah Pulang). Mungkin kalian akan menjadi orang-orang yang pintar, namun tidak bisa survive setelah lulus nanti. Karena itu, ikutilah Unit Kegiatan Mahasiswa yang jumlahnya sangat banyak di ITB dan kembangkanlah bakat kalian. Jika kalian tidak merasa menemukan bakat kalian, cobalah untuk join dengan sesuatu yang baru yang belum pernah kalian ikuti sebelumnya. Percayalah, pengalaman berada di unit akan sangat berharga. Selain itu setelah kalian masuk jurusan nantinya cobalah untuk aktif di himpunan. Berkegiatan di himpunan akan mengasah wawasan kalian tentang jurusan yang kalian ambil dan juga membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Dan yang paling utama adalah jaringan pertemanan, karena kalian akan bisa mengenal banyak orang yang siap membantu kalian jika kalian membutuhkan.

3. Banyak-banyak ikut kepanitiaan dan lomba
Ini sebenarnya masih berhubungan dengan poin kedua. Selain lewat unit dan himpunan, wadah lain buat kalian mengembangkan diri ada di kepanitiaan dan juga lomba-lomba. Banyak banget loh informasi yang ada di ITB tentang kedua hal ini, sayangnya tidak banyak yang mau memanfaatkannya. Cobalah untuk terlibat menjadi panitia acara di ITB ataupun menjadi volunteer di event-event yang ada di Bandung, karena banyak banget manfaatnya buat kalian. Manfaat paling utama adalah menambah perbendaharaan teman kalian. Ini penting banget karenanetworking akan sangat membantu kita di masa depan nantinya. Selain itu cobalah untuk mengasah kemampuan kalian dalam berbagai kompetisi ataupun konferensi, terutama yang diselenggarakan di luar negeri. Menang kalah urusan belakangan, yang penting kemampuan kalian bisa terasah dan akan membuat kalian semakin percaya diri.

4. Asahlah kemampuan bahasa asing!
Kemampuan akan bahasa asing semakin lama benar-benar dirasa semakin penting. Nah, kalau kalian tidak mempersiapkannya sejak masuk ITB maka kedepannya akan sulit buat kalian untuk bersaing terutama setelah lulus nanti. Kemampuan bahasa asing akan membuat kalian bisa lebih unggul dibanding mahasiswa ITB lainnya. Dan saya menyarankan agar kalian tidak hanya memiliki kemampuan bahasa Inggris namun juga bahasa lainnya seperti Jepang, Korea, Perancis, ataupun Jerman. Siapa tahu nantinya kalian mendapat kesempatan untuk pertukaran pelajar ataupun mengikuti konferensi ke negara-negara tersebut. Jadi, cobalah untuk mempersiapkan hal ini sejak dini. Banyak lho lembaga bahasa asing yang ada di Bandung, jadi manfaatkan kesempatan ini!

5. Carilah beasiswa!
Poin ini bermanfaat untuk kalian yang ingin survive dalam hal biaya perkuliahan. Buat kalian yang belum tahu, banyak sekali beasiswa yang ada di ITB. Sayangnya, lagi-lagi tidak banyak yang memanfaatkannya. Cobalah sering-sering mampir ke Campus Center Barat Lantai Dasar, disana ada kantor Lembaga Kemahasiswaan yang selalu memberikan banyak informasi soal beasiswa. Atau kalian bisa juga mencari lewat internet. Persyaratannya sendiri bermacam-macam, namun semuanya relatif mudah untuk dipenuhi. Sekarang tinggal bergantung kepada kalian, apakah kalian sungguh-sungguh untuk mendapatkan beasiswa atau tidak. 

6. Belajar bisnis kecil-kecilan
Well, ini sebenarnya tidak harus kalian lakukan, tapi cukup saya rekomendasikan. Karena kebanyakan mahasiswa adalah anak kost yang budgetnya terbatas, tentunya kita harus melakukan sesuatu agar bisa mendapat pemasukan. Mencari beasiswa adalah sebuah opsi, tapi akan sulit jika prestasi kita pas-pasan. Karena itu cobalah untuk memulai bisnis kecil-kecilan di ITB. Banyak sekali ide yang bisa dikembangkan, seperti berjualan buku, jasa fotokopi, makanan, minuman, dan lain-lain. Mungkin untungnya belum seberapa, tapi ini bisa menjadi titik awal kalian dalam usaha mencari uang sendiri. Dan siapa tahu nantinya kalian bisa menjadi pengusaha sukses 😀
Mungkin itu saja tips yang bisa saya berikan. Walaupun sedikit tapi semoga bermanfaat buat kalian yang baru masuk ITB. Tetap semangat dan semoga sukses menjalani kehidupan di ITB!
*tulisan ini diambil dari sini yang juga merupakan tulisan saya*

Pinstagram, Paduan Serasi Pinterest dan Instagram

Selama ini orang mungkin lebih sering membuka instagram via iPhone ataupun Android, karena memang aplikasi ini dibuat khusus untuk kedua platform ini. Namun banyak juga pengguna yang ingin bisa mengakses instagram via website ataupun melalui iPad. Sayangnya instagram tidak mensupport fasilitas ini. Akhirnya banyak developer yang mencoba membuat instagram viewer untuk web dan juga iPad, meski harus diakui kualitas dan kenyamanannya masih jauh dari harapan. Tapi jangan khawatir, karena kini telah ada aplikasi bernama Pinstagram.


Aplikasi ini menggabungkan dua jejaring sosial yang sedang hangat saat ini, yaitu Pinterest dan Instagram. Sederhananya aplikasi ini berfungsi sebagai web viewer dari kedua jejaring sosial ini. Tampilan UI yang mengadopsi waterfall layout ala pinterest membuat aplikasi ini cukup menarik dan berbeda dari kebanyakan instagram viewer yang ada. Hal ini juga memberikan sensasi tersendiri saat menggunakannya. 

Tampilan Pinstagram
(Dokumentasi Pribadi)

Ada yang menarik dari aplikasi ini. Ternyata salah satu developer-nya adalah orang Indonesia! Dia adalah Aditya Aditama Herlambang, warga Indonesia yang pernah kuliah di University of Arizona dan kini menjadi software engineer di Pulse News. Bersama dua orang lainnya yaitu Brandon Leonardo dan Pek Pongpaet ketiganya berhasil mengembangkan aplikasi ini untuk web dan juga iPad. Pencapaian dari aplikasi ini sungguh luar biasa karena kini telah berhasil meraih rating 4,5 di App Store.

Tertarik untuk mencoba? Silahkan mampir ke http://www.pinstagram.co dan buktikan bahwa aplikasi ini memang layak untuk mendapat acungan jempol.


(Sumber berita :