Jalanan Semerawut di Cisitu, Apa Solusinya?

2011-12-05-15-41-28.jpg (1536Γ—2048)
Macetnya jalanan cisitu (sumber : ajobudi.wordpress.com)
dsc03638.jpg (640Γ—480)
Jalanan berlubang dibiarkan saja (sumber : silenceraloner.wordpress.com)



Jika anda yang berdomisili di daerah Dago Asri ataupun Cisitu, pasti anda sudah tidak asing dengan gambar-gambar diatas. Ya, jalan cisitu merupakan salah satu jalan dengan kondisi terparah yang pernah saya lewati. Bisa dibilang kalau kita ingin melihat rangkuman kondisi jalanan Indonesia serta perilaku para penggunanya, kita cukup melihat Jalan Cisitu ini.


Ukuran jalan yang memang tidak besar mungkin sudah tidak bisa kita akali lagi, namun perilaku para pengguna jalanan ini yang sungguh tidak bisa ditoleransi. Di mana logika para pengguna mobil yang ada disini ketika mereka memutuskan untuk parkir di pinggir jalan cisitu? Apakah mereka tidak sadar bahwa jika mereka parkir disana maka mereka adalah penyebab kemacetan? Belum lagi kelakuan para supir angkot yang dengan seenaknya “ngetem” di pinggir jalan, dan mereka hanya meminta mobil yang dibelakangnya untuk maju saja. Dengan kondisi jalan yang sempit dan sulit untuk menyalip, kemacetan pun akhirnya sering tak terhidarkan. Selain itu terkadang para pengguna kendaraan pun tidak melihat kondisi dengan baik. Banyak mobil yang ngotot untuk maju disaat lebih baik mengalah. Akhirnya mobil dari dua arah pun bertemu dan menimbulkan kemacetan total. Kalau sudah seperti ini emosi pun sudah tak terkendali.


Itu baru dari sisi penggunanya. Belum lagi dari sisi infrastruktur jalanannya. Jalanan disini sungguh jauh dari layak. Banyak lubang besar yang bisa membuat kendaraan menjadi rusak dan beresiko menimbulkan kecelakaan. Jalanan seperti ini juga bisa membuat macet karena kendaraan akan cenderung menghindari lubang sehingga harus mengambil jalur untuk kendaraan dari arah berlawanan. Tambahan lagi dari seorang teman saya, drainase yang buruk disini membuat cisitu rentan banjir walaupun hujannya hanya sebentar. Belum lagi tidak ada trotoar untuk pejalan kaki, akibatnya para pejalan kaki harus berjalan dengan waswas karena ada takut ditabrak.


Inilah realita jalan cisitu : banyak lubang, mobil asal parkir, angkot asal ngetem, pengendara ugal-ugalan, tidak ada trotoar, drainase buruk. Sungguh lengkap bukan? Ironis memang. Padahal jalan ini bisa dibilang adalah salah satu jalan utama yang menghubungkan antara tempat kost para mahasiswa dengan kampus ITB. Artinya aktivitas yang terjadi di jalan ini sangat tinggi. Begitu ada gangguan disini maka bisa dipastikan banyak sekali pihak yang dirugikan, terutama kerugian waktu.


Namun sepertinya kita tidak terlalu peduli dengan kondisi ini. Ya, kita. Bukan hanya masyarakat yang memang tinggal disini, tapi juga para mahasiswa yang notabenenya hanya “numpang” sebentar. Seharusnya kita bisa berpikir dan mencoba menyelesaikan masalah ini dengan cara-cara sederhana. Banyak yang bisa dilakukan sebenarnya, misalnya tidak parkir di pinggir cisitu dan memilih parkir di daerah dekat koboi yang lebih “wajar” untuk menjadi tempat parkir. Ataupun mungkin memilih untuk jalan kaki dan naik sepeda ke kampus. Dengan begini kita mengurangi jumlah kendaraan yang melalui jalan cisitu dan secara tidak langsung mengurangi kemungkinan terjadinya macet. Solusi yang lebih besar mungkin bisa dengan bekerja sama dengan warga cisitu untuk memperbaiki jalan yang bolong lewat pengumpulan dana ataupun kerja bakti bersama-sama. Bahkan jika memungkinkan bisa saja dibuat peraturan agar mobil dilarang parkir di sepanjang jalan cisitu. Jika berhasil dibuat dan diterapkan, saya yakin jalan cisitu tidak akan terlalu macet lagi. Solusi ekstrim lain yang sempat saya pikirkan adalah membuat jalan cisitu menjadi jalan satu arah yang mengarah ke bawah dan membuat halte besar untuk menurunkan penumpang dimana angkot tidak boleh berhenti selain disitu. Namun berhubung saya tidak punya ilmu tentang perencanaan kota ataupun tentang transportasi, jadi mungkin ini termasuk solusi yang ngasal.


Tapi sebenarnya kunci dari semua ini hanya satu : kesadaran para pengguna jalan dan masyarakat di cisitu. Jika semua sadar untuk tidak melakukan hal-hal buruk yang selama ini dilakukan, tentu saja semuanya bisa diminimalisasi. Sayangnya, kesadaran dan tanggung jawab setiap orang di negeri ini sungguh menjadi barang mahal yang tidak dimiliki banyak orang. Tapi mudah-mudahan saya salah. Mudah-mudahan untuk kedepannya perilaku masyarakat di Jalan Cisitu bisa berubah dan keluh kesah seperti yang saya tuliskan ini tidak perlu ada lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s