Sampai Jumpa Kalimalang Tercinta

Ada yang cukup unik sejak saya berkuliah di Bandung. Setiap saya menyempatkan diri untuk pulang ke Jakarta, suasana rumah saya hampir selalu berubah. Biasanya perubahan yang terjadi lebih ke interior rumahnya. Sebenarnya hal ini bagus, karena bertujuan untuk memberi suasana baru terhadap rumah agar orang-orang yang tinggal tidak merasa bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Namun terkadang perubahan yang dilakukan bisa cukup ekstrem. Pernah suatu ketika saya pulang ke Jakarta dan mendapati bahwa saya tidak memiliki kamar tidur sendiri lagi! Bayangkan, saya seperti anak yang tak dianggap di rumah sendiri, hahaha. Tapi untungnya saya masih bisa tidur di kamar adik saya karena kebetulan memiliki dua tempat tidur.


Kejadian seperti ini pun masih juga terjadi ketika saya pulang ke Jakarta minggu lalu. Dan perubahannya juga tidak kalah ekstrim, yaitu memindahkan dapur ke tempat yang dulunya adalah musholla. Ternyata dapur yang lama sedang direnovasi sehingga harus ada sedikit relokasi. Namun perubahan terbesar bukan itu, tapi sebuah fakta bahwa pekan lalu adalah saat terakhir saya bisa menikmati suasana rumah saya tersebut. Hal ini karena mulai akhir bulan ini rumah tersebut akan dikontrakkan dan ayah serta ibu saya akan pindah ke apartemen yang sudah dibeli di daerah Kalibata. Alasan kepindahannya adalah agar keluarga bisa mendapat pemasukan tambahan dan menghemat pengeluaran karena sekarang ayah dan ibu saya hanya tinggal berdua berhubung adik saya sudah kuliah di Jatinangor. Disamping itu lokasi apartemen lebih dekat dengan kantor ayah saya sehingga bisa menghemat waktu dan biaya untuk menuju kesana.


Di satu sisi, alasan mereka memang masuk akal dan dapat diterima. Tapi di sisi lain ada sedikit rasa sedih karena harus meninggalkan rumah tersebut dan meninggalkan daerah Billy Moon, Pondok Kelapa, dan Kalimalang. Selama ini saya dianggap identik dengan Kalimalang, bahkan ada sebutan “Geng Kalimalang” untuk saya dan teman-teman saya yang tinggal di daerah ini karena kami sering pulang bersama dan berinteraksi bersama. Sudah banyak kenangan yang saya alami disana sampai-sampai saya bingung harus menuliskan kenangan yang mana. Kesedihan memang cukup terasa, but the show must go on. Ini memang demi kebaikan semua. Mudah-mudahan saya tidak perlu berlama-lama untuk tinggal di Kalibata nantinya, karena sekali lagi, Kalimalang sudah identik dengan saya, dan saya tidak mau kehilangan kenangan-kenangan tersebut.

One thought on “Sampai Jumpa Kalimalang Tercinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s