SWASTAH!

Kemarin, senin 8 Agustus 2011, adalah hari pertama saya dan teman-teman angkatan 2008 menjadi mahasiswa tingkat 4, yang di kampus saya lebih dikenal dengan sebutan SWASTA (Mahasiswa Tingkat Akhir). Sebuah sebutan yang membanggakan? Tergantung siapa yang ditanya dan bagaimana memandangnya. Jika yang ditanya adalah aktivis kampus yang sering muncul di forum-forum massa yang menurut saya identik dengan pencitraan, maka menjadi SWASTA adalah sebutan yang keren. Karena biasanya semakin tua tingkatan mahasiswa maka semakin disegani dan dikagumi pula mahasiswa tersebut. Orang ini bisa dipandang sebagai orang yang bijak, berwawasan luas, dan sebagainya. Namun jika yang ditanya adalah orang yang biasanya lebih banyak santai ataupun main-main saja, maka SWASTA mungkin adalah sebutan yang menakutkan. Mengapa? Karena menurut dia sepertinya dia belum mendapat ilmu apa-apa dan belum ada sesuatu berarti yang sudah dilakukan tapi waktu berjalan terlalu cepat sehingga saat-saat dia berada di kampus ini pun tidak lama lagi. Belum lagi jika beban sks yang harus dipenuhi masih banyak, tentunya hal ini makin menjadi beban yang berat.


Saya sendiri lebih melihat diri saya sebagai orang yang ada di tengah-tengah. Harus diakui SWASTA adalah sebutan yang keren dan sangar karena menunjukkan kedewasaan dan banyaknya pengalaman yang sudah dilalui di kampus ini. Namun di sisi lain ini menjadi beban juga buat saya, karena secara pribadi saya masih belum memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang harus saya lakukan begitu saya benar-benar meninggalkan kampus ini. Pertanyaan “Mau ngapain abis lulus?” sungguh menghantui pikiran saya akhir-akhir ini sehingga membuat saya galau. Tidak mudah mencari jawabannya, karena saya tidak ingin main-main dengan masa depan saya. Saya ingin menjalani sesuatu yang saya sukai dan saya cintai. I have to find my passion ASAP.


Karena itu, selama satu tahun ini saya sudah memasang target penting : mencari tahu apa yang sebenarnya harus saya lakukan setelah saya lulus. Buat saya, tidak ada gunanya ketika saya lulus namun hanya menjadi pengangguran dan beban orang tua. Ayah dan Ibu saya menyekolahkan saya bukan untuk itu, namun untuk menjadi kebanggaan mereka. Lebih jauh lagi, untuk menjadi solusi atas permasalahan bangsa. Karena itu, dengan mengetahui apa yang saya cintai maka saya akan bisa menjadi solusi dari masalah bangsa dan bisa membuat bangsa ini sedikit lebih baik.


Bismillah. Semoga saya bisa mendapat jawabannya. Buat anda yang juga melakukan hal yang sama, semoga berhasil!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s