Lebaran Kapan?

Di Indonesia, perdebatan yang kerap terjadi di bulan ramadhan adalah menentukan awal ataupin akhir bulan ramadhan tersebut. Salah satu yg trjadi adalah pada tahun ini, dimana Muhammadiyah mnyatakan 1 syawal jatuh pada selasa esok, sedangkan pemerintah masih belum menyatakan apa-apa. Rumor yg beredar sendiri menyatakab bahwa pemerintah akan mngumumkan bahwa 1 syawal jatuh pada hari rabu. Perbedaan ini tak jarang mmbuat masyarakat bingung harus mengikuti yang mana. Namun ada yang bilang bahwa kita harus mngikuti kepuruaan pemimpin kita,dalam hal ini adalah pemerintah. Entahlah, saya sendiri juga bingung. Keluarga saya memilih untuk berlebaran esok hari. Terlepas dari apapun alasan perbedaannya, semoga hal ini tidak membuat umat islam di Indonesia terpecah belah. Karena masih banyak yang harus kita benahi di negeri ini.
Selamat lebaran semuanya! Mohon maaf lahir batin ya!

Published with Blogger-droid v1.7.4

Smartphone yang Menjadi Tidak Smart

Sejak kemarin saya berusaha mengutak-atik ponsel android yg baru saya beli. Satu permasalahan penting yg saya liat adalah borosnya pemakaian baterai ponsel saya ini. Akhirnya yang harus dilakukan adalah mematikan segala macam fitur penting seperti sync dan koneksi 3g. Padahal fitur2 tsb adalah sesuatu yg membuat ponsel ini dan ponsel masa kini disebut sbg smartphone. Ketika fitur2 tsb dimatikan, bagaimana ponsel ini bisa menjadi smart?
Entahlah. Rasanya perkembangan baterai belum bisa mengimbangi perkembangan smartphone. Semoga hal ini bisa segera disadari dan ada riset lebih lanjut.

Published with Blogger-droid v1.7.4

Ngeblog dengan Android

Alhamdulillah,saya baru saja beralih menjadi pengguna android. Dan trnyata ada aplikasi khusus untuk blogging pada os ini. Mudah2an hal ini bisa membantu saya untuk semakin rajin menulis deh. Oiya, tulisan ini saya buat dengan aplikasi trsebut lohh! Keren kan?

Published with Blogger-droid v1.7.4

SWASTAH!

Kemarin, senin 8 Agustus 2011, adalah hari pertama saya dan teman-teman angkatan 2008 menjadi mahasiswa tingkat 4, yang di kampus saya lebih dikenal dengan sebutan SWASTA (Mahasiswa Tingkat Akhir). Sebuah sebutan yang membanggakan? Tergantung siapa yang ditanya dan bagaimana memandangnya. Jika yang ditanya adalah aktivis kampus yang sering muncul di forum-forum massa yang menurut saya identik dengan pencitraan, maka menjadi SWASTA adalah sebutan yang keren. Karena biasanya semakin tua tingkatan mahasiswa maka semakin disegani dan dikagumi pula mahasiswa tersebut. Orang ini bisa dipandang sebagai orang yang bijak, berwawasan luas, dan sebagainya. Namun jika yang ditanya adalah orang yang biasanya lebih banyak santai ataupun main-main saja, maka SWASTA mungkin adalah sebutan yang menakutkan. Mengapa? Karena menurut dia sepertinya dia belum mendapat ilmu apa-apa dan belum ada sesuatu berarti yang sudah dilakukan tapi waktu berjalan terlalu cepat sehingga saat-saat dia berada di kampus ini pun tidak lama lagi. Belum lagi jika beban sks yang harus dipenuhi masih banyak, tentunya hal ini makin menjadi beban yang berat.


Saya sendiri lebih melihat diri saya sebagai orang yang ada di tengah-tengah. Harus diakui SWASTA adalah sebutan yang keren dan sangar karena menunjukkan kedewasaan dan banyaknya pengalaman yang sudah dilalui di kampus ini. Namun di sisi lain ini menjadi beban juga buat saya, karena secara pribadi saya masih belum memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang harus saya lakukan begitu saya benar-benar meninggalkan kampus ini. Pertanyaan “Mau ngapain abis lulus?” sungguh menghantui pikiran saya akhir-akhir ini sehingga membuat saya galau. Tidak mudah mencari jawabannya, karena saya tidak ingin main-main dengan masa depan saya. Saya ingin menjalani sesuatu yang saya sukai dan saya cintai. I have to find my passion ASAP.


Karena itu, selama satu tahun ini saya sudah memasang target penting : mencari tahu apa yang sebenarnya harus saya lakukan setelah saya lulus. Buat saya, tidak ada gunanya ketika saya lulus namun hanya menjadi pengangguran dan beban orang tua. Ayah dan Ibu saya menyekolahkan saya bukan untuk itu, namun untuk menjadi kebanggaan mereka. Lebih jauh lagi, untuk menjadi solusi atas permasalahan bangsa. Karena itu, dengan mengetahui apa yang saya cintai maka saya akan bisa menjadi solusi dari masalah bangsa dan bisa membuat bangsa ini sedikit lebih baik.


Bismillah. Semoga saya bisa mendapat jawabannya. Buat anda yang juga melakukan hal yang sama, semoga berhasil!

Random Writing

Sekarang sudah masuk hari ketiga puasa. Sayangnya justru saya malah lebih banyak menghabiskan waktu dengan sia-sia, alias gabut. Well, ternyata mau KP ataupun tidak, kata “gabut” tetap akrab dengan saya. Tapi at least sekarang-sekarang ini saya bisa mampir ke kampus untuk melihat suasana disana ataupun berkumpul dengan teman-teman, melakukan apa saja yang menyenangkan.

Jika tidak ke kampus, apa yang saya lakukan? Saya memilih untuk membuka laptop dan menonton TV Series. Salah satu favorit saya adalah The Mentalist, TV Series dengan genre kriminal sejenis Castle ataupun CSI. Tokoh utama dari serial ini adalah Patrick Jane, seseorang yang berprofesi sebagai konsultan yang membantu CBI (California Bureau of Investigation) dalam memecahkan berbagai kasus pembunuhan. Plot besar dari cerita di serial ini adalah bagaimana Jane mencoba mengejar seorang pembunuh berantai bernama Red John. Jane sangat terobsesi dengan Red John karena dialah yang membunuh istri dan anaknya sehingga Jane berniat untuk membalaskan dendamnya. Dalam memecahkan berbagai kasus yang ada, Jane memanfaatkan kemampuannya dalam membaca pikiran, perilaku, ataupun fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya. Itulah mengapa dia selalu one step ahead dibanding rekan-rekannya di CBI. Ceritanya sendiri cukup menarik buat saya, karena disitu diperlihatkan bagaimana Jane memecahkan berbagai kasus dengan cara-cara yang unik dan memperhatikan detil yang tidak diperhatikan orang lain. Buat anda yang senang dengan TV Series bergenre kriminal seharusnya akan menyukai The Mentalist.

The Mentalist, Starring : Simon Baker

Ketika saya sudah bosan menonton, maka yang saya lakukan adalah membaca buku. Yap, saya senang membaca dan membeli banyak buku. Ironisnya, kadang buku yang saya beli belum sempat saya baca dan saya sudah membeli buku lain. Hahaha. Toko buku seperti memiliki kharisma tersendiri yang membuat saya selalu ngiler setiap datang kesana. Dua hari yang lalu saya memborong 3 buah buku untuk mengisi kekosongan waktu saya. Dan saat ini saya sedang membaca buku “Bepe20, Ketika Jemariku Menari”. Sebuah buku yang diambil dari blog milik Bambang Pamungkas, legenda sepakbola Indonesia. Saya belum membaca banyak, tapi dari beberapa tulisan yang saya baca terlihat bahwa Bepe adalah seorang yang berintegritas, rendah hati, namun punya mimpi yang besar. Dia juga seorang penulis yang bagus. Negeri ini pasti bangga karena memiliki Bepe, salah satu putra terbaik Indonesia di lapangan hijau. Saya tak sabar untuk segera menyelesaikan buku ini.

Ketika Jemariku Menari, by Bepe20
Diluar kedua hal diatas, ada beberapa hal insidental yang saya lakukan. Pekerjaan terakhir saya sebelum disibukkan kembali oleh dunia perkuliahan adalah mengisi materi sebagai mentor di PROKM ITB 2011. Buat yang belum tau, PROKM (Pengenalan Ruang dan Orientasi Keluarga Mahasiswa ITB) adalah rangkaian acara penerimaan mahasiswa baru yang setiap tahun dilaksanakan oleh Kabinet KM ITB. Bahasa simpelnya : OSPEK. Well, saya kurang suka dengan kesan yang timbul oleh kata “OSPEK” karena itu saya lebih memilih untuk tidak memakai kata tersebut. Inti dari PROKM ini adalah bagaimana membuat 3000 mahasiswa baru ITB yang notabene adalah mahasiswa terbaik di institut terbaik (ini yang selalu ditanamkan pada kami, entah kenapa) sadar bahwa mereka memiliki tanggung jawab yang besar kepada masyarakat untuk bisa mengangkat kembali bangsa ini dari keterpurukan. Dan hal itu akan coba disampaikan oleh para mentor lewat materi kemahasiswaan ITB dan sejarahnya. Sebuah materi yang harus saya akui cukup berat jika disampaikan dengan cara yang kuno. Karena itulah, dengan waktu yang terbatas dan melihat anak-anak baru angkatan 2011 yang masih belum tahu banyak tentang ITB maka saya harus berpikir keras untuk mencari cara yang unik agar materi yang ada bisa diserap dengan baik. Harus diakui, saya adalah presentator yang kurang baik, kalau tidak bisa dibilang buruk. Itulah sebabnya saya belajar kepada teman saya, Fuad, tentang bagaimana berkomunikasi dengan baik dan teknik-teknik agar materi ini bisa jadi lebih menarik. Dan saya menemukan beberapa cara. Mudah-mudahan bisa saya terapkan besok.

Baiklah, sekian dulu random writing dari saya. Semoga apa yang saya tulis bermanfaat buat siapapun yang membaca 🙂