Curhat Pagi-Pagi : Mengingat Kembali Mengapa Saya Disini

Tuhan memang paling mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Setidaknya hal ini mungkin menjadi hal yang coba untuk terus saya yakini hingga saat ini. Menarik memang ketika kita diberikan jalan yang sungguh tak terduga dan mungkin di luar nalar kita. Mungkin saya adalah salah satu yang mendapat jalan yang agak aneh tersebut.


Dulu saat saya masih SMP, sekolah saya memiliki mata pelajaran muatan lokal (mulok). Ada dua mata pelajaran yang termasuk mulok ini, yaitu Tata Busana dan Elektronika. Pelajaran Elektronika ini diajar oleh Pak Heri Purnomo yang juga mengajar fisika untuk kelas 3. Beliau termasuk guru yang suka memberi ujian mendadak sehingga para siswa dituntut untuk selalu belajar dan mempersiapkan diri. Permasalahannya adalah, pelajaran Elektronika ini termasuk banyak hapalannya. Hitungannya tidak terlalu banyak dibanding yang saya pelajari di bangku kuliah. Dan saya sangat payah dalam urusan menghapal. Dua kondisi tadi membuat saya cukup kewalahan menghadapi pelajaran ini.


Suatu hari saat saya masih kelas 1, seperti biasa Pak Heri masuk dan mengadakan ujian mendadak. Sepuluh soal essay kalau saya tidak salah. Walaupun sudah ada sedikit persiapan, tetap saja saya kewalahan dalam mengerjakannya. Petaka pun datang saat ujian tersebut. Ketika Pak Heri sedang keluar, saya yang kebetulan duduk di paling depan ditanya oleh teman yang ada di belakang saya, dan entah kenapa saya tetap melihat ke belakang setelah beberapa lama. Mungkin saya saat itu cukup desperate juga dan akhirnya mencoba melihat jawaban teman saya itu. Tiba-tiba Pak Heri telah masuk dan menunjuk-nunjuk serta meneriaki saya yang telah tertangkap menyontek. Ah, saya masih bingung juga apakah itu termasuk menyontek atau tidak. Yang jelas saya telah tertangkap basah. Segera setelah itu, saya diminta berdiri di depan kelas dan kertas ujian saya dirobek-robek di depan mata saya dan disaksikan teman-teman sekelas. Saya shock.


Sejak saat itu di otak saya jadi terbangun semacam sugesti bahwa pelajaran ini sulit dan menjadi pelajaran yang tidak saya sukai. Kesialan saat pelajaran ini pun menjadi hal yang sulit dihindari. Dan benar saja, saya pun mengalami hal buruk berikutnya saat berurusan dengan pelajaran ini. Entah berapa lama setelah insiden menyontek itu, tapi yang jelas saat itu saya masih di kelas 1. Kejadiannya ketika saya sedang praktikum. Ketika itu kami mendapat tugas membuat adaptor. Segala komponen sudah disiapkan dan kami tinggal menyolder saja. Dan karena berpasangan maka hal ini jadi tidak terlalu sulit. Singkat cerita, adaptor yang saya buat telah jadi, tinggal diujicobakan di depan Pak Heri kemudian diberi kotak. Namun karena sedang ramai, akhirnya saya memilih untuk mencobanya sendiri. Setelah dicolok, saya kegirangan karena lampu indikator di adaptor menyala. Namun kemudian terlihat percikan listrik dan terdengar suara “boom!”. Adaptor saya meledak dan listrik setengah sekolah mati. Usut punya usut, ternyata ada serabut sisa kabel yang menempel di atas trafo, sehingga hal tersebut membuat adaptor meledak. Well, kisah selanjutnya sudah pasti bisa ditebak. Saya kembali dimarahi dan diusir dari lab untuk mencari petugas yang bisa menyalakan listrik kembali. Saya shock. Untuk kedua kalinya. Tapi untuk yang ini memang bisa dimaklumi kalau saya membuat kesalahan fatal yang bisa berbahaya bagi keselamatan.


Dua kejadian diatas rasanya cukup untuk membuat saya berkomitmen bahwa saya tidak mau berurusan dengan elektronika lagi. Saya agak lupa juga, tapi rasanya saya memang berkomitmen seperti itu. Itulah mengapa ketika saya melihat lagi diri saya saat ini saya merasa bingung sendiri. Mengapa saya sekarang berada di Teknik Telekomunikasi ITB? Bukan teknik elektro sih, tapi tetap saja berada dalam satu rumpun keilmuan yang sama. Teman SMP saya pun ada yang heran ketika saya diterima di STEI ITB mengingat saya punya pengalaman buruk yang telah disebutkan diatas tadi. Yah, mungkin kedua kejadian ini adalah pertanda bahwa saya memang harus masuk jurusan ini. Atau mungkin saya adalah korban kesekian dari sistem pendidikan kita yang tidak membuat siswa mengetahui apa yang mereka inginkan. Atau mungkin memang saya belum tahu apa mimpi saya. Entahlah. Bisa jadi ini memang rencana Tuhan kepada saya. Sekarang saatnya mencari tahu kembali, apa sebenarnya yang Tuhan rencanakan untuk saya. Mencari tahu apa sebenarnya passion saya, sesuatu yang sungguh membuat saya bersemangat. Semoga memang ini yang terbaik. Dan kalaupun bukan ini yang terbaik, semoga ada hikmah dari segala yang saya jalani disini. 

2 thoughts on “Curhat Pagi-Pagi : Mengingat Kembali Mengapa Saya Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s