(Bukan) Resensi Film Up In The Air : Ahli Memecat Orang, Benarkah Ada?

Up in the Air Poster
Up in the Air, taken from here

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film yang sudah lama ada di External HD saya namun baru sempat saya tonton. Kenapa baru saya tonton? Karena saya lebih senang menyaksikan TV series semacam How I Met Your Mother, The Mentalist, F.R.I.E.N.D.S, dan semacamnya. Tapi berhubung semua TV series ini baru saja menyelesaikan season terakhirnya, dan saya belum sempat mendownload TV series yang lain, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengutak-atik koleksi film saya. Dan pilihan saya jatuh kepada film ini.


Cerita dari film ini cukup bagus buat saya, bahkan saya sampai bingung sendiri mengapa film sebagus ini baru saya tonton sekarang. Sang tokoh utama, Ryan Bingham (George Clooney) berobsesi untuk menaklukan udara sejauh 10 juta mil dengan maskapai penerbangan yang sama sehingga dia bisa meraih kartu eksklusif. Selain itu dia juga memilih untuk tidak memiliki hubungan emosional dengan wanita manapun karena dianggap bisa merusak kehidupan yang sudah ia bangun. Dia sudah memiliki hidup yang sukses dan mapan tanpa pasangan hidup, jadi buat apa memilikinya? Itu kira-kira yang ada di benaknya. Namun idealisme ini luntur seiring berjalannya waktu, terutama setelah dia menjadi semacam mentor untuk Natalie (Anna Kendrik) yang merupakan karyawan baru di tempat kerja Ryan. Hubungannya dengan Alex (Vera Farmiga) yang tadinya simpel pun akhirnya menjadi rumit dan membuat Ryan keluar dari “jalur”.

Selain jalan ceritanya yang menarik, ada satu hal lagi yang cukup menyita perhatian saya. Hal itu adalah profesi yang dijalani Ryan pada film ini, yaitu pakar pengurangan karyawan. Bahasa kasarnya : Ahli memecat orang. Saya bertanya-tanya, apakah profesi ini benar-benar ada? Bagaimana mungkin bisa ada sebuah profesi yang tugasnya adalah memecat orang lain? Rasanya belum pernah ada profesi seperti ini di Indonesia. Setelah saya googling pun saya tidak menemukan profesi ini. Sulit rasanya membayangkan ada di posisi tersebut. Yah, mudah-mudahan profesi ini tidak ada (dan tidak perlu ada) di Indonesia. Kita memang masih kekurangan lapangan pekerjaan, namun profesi ini bukan satu-satunya jalan keluar yang bisa kita pilih. Semoga kedepannya generasi muda Indonesia bisa terus berkarya dan berinovasi mewujudkan lapangan kerja baru bagi masyarakat demi Indonesia yang lebih baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s