Besar Mobil Daripada Tempat Parkirnya

            Hari ini seperti biasa saya harus ke kampus untuk mengikuti perkuliahan. Namun tidak seperti hari-hari biasanya yang cukup padat, kuliah yang saya ikuti hari ini hanya satu jam saja, jam 11 hingga jam 12. Karena itu saya berangkat sedikit lebih siang. Namun jika biasanya saya agak mepet saat berangkat, kali ini saya berangkat lebih awal yaitu sekitar pukul 10.20, dengan harapan mungkin saya bisa mampir ke sekre himpunan sejenak untuk bercengkerama dengan teman-teman. Namun apa daya, ternyata hal itu tidak bisa saya lakukan.
                Mengapa demikian? Ini dikarenakan saya harus menghabiskan lebih dari 20 menit hanya untuk mencari tempat parkir yang kosong. Biasanya bahkan ketika saya jauh lebih terlambat dari sekarang saya masih bisa mendapat tempat parkir. Namun kali ini sepertinya saya sedang sial. Semua tempat terisi penuh. Fully-Booked. Memang ada beberapa slot yang kosong, tapi tempat itu diberi penghalang sehingga tidak bisa sembarang orang parkir disitu. Sepertinya ada yang sudah membayar lebih kepada si tukang parkir sehingga mereka bisa diberi tempat khusus. Ah, sungguh tidak adil buat orang dengan ongkos pas-pasan seperti saya.

                Saya harus berkeliling beberapa kali untuk benar-benar memastikan bahwa saya tidak mendapat tempat parkir. Mungkin kalau saya berkeliling tujuh kali sudah bisa dianggap tawaf kali ya. Sayangnya hanya kekesalan yang didapat, bukannya pahala. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.40 namun saya belum mendapatkan tempat parkir juga. Saya bingung. Namun tiba-tiba saya teringat sebuah tempat : SARAGA. Sebuah solusi yang datang di saat yang tepat. Akhirnya saya langsung tancap gas menuju kesana dan saya lega karena masih ada banyak tempat parkir yang bisa ditempati. Alhamdulillah.

                Kondisi seperti ini tentu bukan yang pertama kali terjadi dan mungkin bukan hanya saya yang pernah mengalaminya. Saya yakin banyak mahasiswa ITB yang akhirnya harus membuang-buang waktu dan mungkin akhirnya tidak bisa masuk kelas hanya karena terlambat karena tidak mendapatkan tempat parkir. Lantas apa yang harusnya dilakukan? Solusi seperti apa yang bisa menjawab masalah ini?

                Dari diskusi dunia maya yang sempat saya lakukan, saya melihat beberapa alternatif solusi. Solusi-solusi tersebut antara lain :
1.       Menyediakan tambahan lahan parkir. Ini bisa dibilang solusi yang paling mudah, karena kita selaku pengguna kendaraan tidak perlu berbuat apa-apa. Solusi ini juga menunjang fakta bahwa jumlah kendaraan di ITB meningkat secara eksponensial (sotoy mode on) sedangkan lahan parkirnya konstan. Namun solusi ini jelas tidak masuk akal. Harga tanah sudah mahal, apalagi di Bandung. Dan entah dimana tanah yang layak untuk bisa dijadikan tempat parkir untuk ITB. Kalaupun ada mungkin letaknya sangat jauh. Lantas buat apa bawa mobil ke kampus?
2.       Mengurangi jumlah kendaraan. Apa maksud solusi ini? Apakah kita harus menjual mobil kita sehingga jumlah mobil menjadi berkurang? Tentu saja tidak. ‘Mengurangi’ disini berarti membatasi jumlah pemakaian kendaraan kita. Untuk sejumlah kondisi alangkah baiknya jika kita tidak perlu memakai kendaraan ke kampus. Contoh kasusnya adalah seperti yang saya alami. Jika hanya ada satu jam kuliah dan dirasa tidak akan berlama-lama di kampus lebih baik naik kendaraan umum saja, karena akan jadi lebih murah. Atau ketika kuliah baru dimulai siang hari, bisa dibilang lahan parkir sudah sangat sulit jadi lebih baik langsung saja naik kendaraan umum.
3.       Membenahi sistem transportasi di Bandung. Solusi ini mungkin tidak bisa dilakukan langsung oleh kita sebagai mahasiswa, karena lingkupnya pun lebih bisa dilakukan oleh para stakeholder. Namun kita bisa memberikan alternatif-alternatif solusi sistem transportasi yang cocok dan bisa menyelesaikan masalah kepadatan kendaraan di Bandung. Perbaikan pada sarana transportasi umum dan membuat sistem transportasi massa bisa menjadi solusi untuk bisa mendorong warga Bandung (terutama mahasiswa) bisa beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Mungkin teman-teman di jurusan Teknik Sipil ataupun Planologi punya dasar keilmuan yang lebih kuat untuk bisa menjawab permasalahan ini.
4.       Membentuk komunitas NEBENG. Ini solusi alternatif yang bisa dibilang menarik. Solusi ini sudah diterapkan di Jakarta dan sudah memiliki banyak sekali anggota. Mungkin tidak menyelesaikan permasalahan secara utuh, namun bisa cukup membantu mengurangi kepadatan jumlah kendaraan di Bandung. Konsep NEBENG ini bisa diterapkan pada sejumlah mahasiswa pada satu rumah kost yang semua berkuliah di ITB. Daripada semuanya menggunakan mobil pribadi sendiri-sendiri, alangkah baiknya jika hanya satu mobil saja yang digunakan dan yang lain nebeng. Banyak teknis lain yang bisa diterapkan, dan menurut saya ini sangat mungkin diterapkan kepada mahasiswa ITB.
                Kira-kira empat solusi ini yang bisa dikedepankan untuk saat ini. Sekali lagi, mungkin tulisan ini bisa dibilang sok tau karena saya bukan orang yang memiliki latar belakang keilmuan ini. Mungkin saya juga dibilang tocab karena belum bisa menerapkan solusi-solusi yang saya terapkan. Tapi buah pemikiran ini bisa menjadi awal yang baik untuk kita berpikir bahwa ada sebuah masalah sederhana tapi nyata yang ada di sekitar kita. Dan kini saatnya menjadi solusi bagi lingkungan sekitar kita.
                Hanya sebuah pemikiran sederhana dari kaleng-kaleng kampus Ganesha.

Men Sana in Corpore Sano

Olimpiade mungkin telah berakhir, namun semangat berolahraga tidak boleh luntur, malah harus tetap dijaga terus. Karena seperti kata orang bijak :
Mens Sana in Corpore Sano (A healthy mind in a healthy body)
Buat yang gak ngerti bahasa Inggris, nih translatenya : Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
Kebiasaan orang Indonesia yang latah ketika ada sesuatu yang sedang ramai dibahas mungkin sedang menimpa sebagian teman-teman dari himpunan saya. Teman-teman saya sekarang sedang rajin olahraga seperti renang, badminton, futsal, dan olahraga lainnya. Mungkin saya juga bisa dibilang sebagai salah satu korbannya. Hehehe.
Saya berniat untuk rajin olahraga semester ini, minimal lari seminggu sekali. Ini saya coba lakukan karena saya termasuk orang yang daya tahannya agak lemah dan setelah diselidiki ternyata ini disebabkan karena saya jarang olahraga. Disamping itu bentuk tubuh yang agak kurang bagus membuat saya terpacu untuk berolahraga rutin. Hehehe. Mudah-mudahan olahraga rutin ini memberikan dampak yang bagus.
Kesempatan untuk berolahraga banyak muncul pekan ini. Entah kenapa banyak ajakan untuk berolahraga selain rencana saya untuk lari rutin setiap pekan. Hari selasa kemarin ada latihan rutin voli, kemudian rabu malam saya bermain boling bersama teman saya. Dan tadi pagi saya bermain tenis bersama teman-teman saya. Yah, bisa dibilang saya memang payah di semua olahraga ini, hahaha. Tapi tak apa lah, yang penting ada kemauan. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Insya Allah.
Saya termasuk orang yang senang dengan segala hal yang berhubungan dengan olahraga. Saya menikmati segala diskusi dan pembicaraan tentang olahraga, baik perkembangan olahraga dunia maupun Indonesia. Selama ini saya lebih banyak menjadi penikmat, supporter, atapun penonton. Mungkin sekarang saatnya jadi pemain. Dan mungkin ini memang passion yang saya sedang cari-cari selama ini. Semoga ini bukan angin lalu saja.

Dan mimpi itu pun menjadi kenyataan

Wah, ternyata udah 3 minggu saya gak ngepost di blog ini. Padahal niatannya mau nulis rutin tiap hari. Ah, apa daya ternyata banyak hal yang membuat tidak bisa menulis terus. Yaudah dicoba lagi deh menulis rutin. Bismillah.

Perjuangan selama 50 hari akhirnya terbayarkan. HME ITB resmi menjadi juara umum Olimpiade VI KM ITB 2011 dengan raihan 9 emas, 5 perak, 6 perunggu. JUARA UMUM. Sebuah prestasi yang belum pernah kita raih sebelumnya. Prestasi yang sudah kita dambakan sejak lama. Dan mimpi itu pun jadi nyata. Kebanggaan pun semakin membumbung setelah HME juga meraih BEST SUPPORTER untuk kedua kalinya berturut-turut. DOUBLE WINNER! Kesuksesan meraih juara umum di PROFICIO AWARDS semakin melengkapi kejayaan HME di awal tahun ini.

Banyak cerita, baik suka maupun duka selama olimpiade kali ini. rasanya udah dituliskan semua di “catatan terpercaya Olimpiade HME”. Monggo dicek lah di fesbuk, lengkap tuh, hehehe. Buat saya pribadi, ini adalah momen membanggakan. Sekali lagi, sebuah mimpi yang akhirnya jadi nyata. Jujur, saya awalnya pesimis dengan target kita menjadi juara umum. Melihat realita yang ada, prestasi yang sebelum olim kurang bagus, andalan-andalan peraih emas dua tahun lalu yang sudah gak main lagi, dan banyak hal lainnya. Bahkan meraih best supporter pun sempat pesimis. Tapi beruntunglah HME punya manajer kontingen sehebat Ijul, dan koordinator supporter yang melegenda seperti Rafi.

Buat saya, Ijul adalah orang yang paling konkret, berkomitmen, dan berintegritas yang pernah saya kenal. Dan itu beliau tunjukkan selama persiapan Olimpiade dan selama 50 hari acara Olimpiade. Selalu hadir di setiap pertandingan, melayani para atlet dengan sepenuh hati, membuatkan laporan setiap malam yang selalu dinanti massa HME, dan segala macamnya.
Dan Rafi, menurut saya adalah orang dengan ambisi dan semangat luar biasa untuk mewujudkan mimpi besar ini. Sebuah tradisi yang belum terwujud sampai akhirnya ditembus kemarin. Makasih raf sudah mengenalkan gw dengan supporter HME, it’s a pleasure. Gw belum pernah merasakan suasana yang luar biasa ketika menjadi supporter selain ketika jadi Supporter HME.

Semua prestasi yang HME raih di awal tahun ini membawa saya pada suatu kesimpulan :
SEMUA BERAWAL DARI MIMPI.
Mimpi saya dan teman-teman saya angkatan 2008 untuk membuat HME menjadi legenda.
Mimpi Ijul untuk menjadikan HME juara umum Olimpiade.
Mimpi Rafi untuk meraih best supporter.
Mimpi Mo untuk membuat HME berprestasi.

Dan semua mimpi itu bukan lagi hanya mimpi. Semuanya sudah menjadi nyata.
Saya bangga karena menjadi bagian dari sejarah ini.
Terima kasih HME ITB.
Semoga bisa terulang dua tahun lagi.