Catatan dua ribu sepuluh (bagian 1)

Yak, setelah tertunda beberapa lama akibat kemalasan saya dalam menulis dan terlalu asik main FM, akhirnya saya meniatkan diri menulis. Kegabutan di Bandung semakin mendorong saya melakukan sesuatu yang produktif. Ya, rumah membuat saya kehilangan produktivitas. *kayak saya produktif aja kalo di Bandung :p*


Ide tentang apa yang ingin saya tulis ini sudah tersimpan sejak beberapa hari ini. Terinsipirasi oleh sejumlah tulisan sejenis, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menuliskan event-event ataupun kegiatan yang telah saya lakukan serta momen-momen menarik yang telah saya alami sepanjang 2010. Yah, bisa dianggap sebagai sebuah rekapitulasi dan dokumentasi perjalanan hidup saya. Supaya saya bisa memperkirakan sebenarnya saya sudah di posisi yang seperti apa. Mudah-mudahan menarik untuk diikuti nih. Maklum, kan saya amatiran dalam menulis, hehehe.

Baiklah, saya awali cerita kali ini dengan Diklat Aktivis Terpusat 2010. Gahul banget gak sih namanya? Hahaha. Katanya sih, acara ini dibuat untk mempersiapkan kader-kader penerus di lembaga masing-masing. Kebetulan saya termasuk yang memiliki mimpi untuk menjadi Kahim HME, dan saya melihat bahwa DAT bisa menjadi langkah awal untuk saya. Yah, tapi sebenernya yang saya incar disini emang menambah temannya saja. Materinya menarik juga, tapi seperti biasa langsung lewat begitu saja. Ketawa-ketawa bersama teman-teman baru calon stakeholder dari tiap himpunan lebih asik ternyata. Disini saya satu kamar bareng Estuyu (Kordiv Taplok OSKM 2010), Ari (Cakahim HMS), dan saya lupa lagi. Hahaha. Tapi overall asik lah, terutama pas pengmas ke Desa Mitra KM ITB di cililin. Pengalaman hampir mati lah itu, naik truk udah kayak naik roller coaster, hahaha.

Oke. Event berikutnya adalah ITB Fair 2010. Acara yang kalau kata Faris PL 07 selaku ketuanya adalah sebuah movement keprofesian ITB. Nah, di acara ini saya tertarik dengan divisi Idea Mall. Waktu saya daftar, katanya divisi ini dibuat dengan tujuan memberi inspirasi bagi para pengunjungnya sehingga jadi terstimulus untuk berkarya. Sungguh mulia bukan tujuannya? Kebetulan sesuai juga dengan cita-cita saya yaitu menginspirasi orang lain. Yasudah, bergabunglah saya dengan divisi ini. Singkat cerita, banyak suka dan duka saya rasakan selama jadi panitia divisi Idea Mall. Mulai dari permasalahan dianaktirikan, SDM yang terbatas, biaya yang juga gak sesuai harapan, dan masalah-masalah lainnya. Tapi konflik dan permasalahan yang ada justru membuat kami sungguh akrab dan membuat saya merindukan masa-masa itu. Dengan segala keterbatasan, kami membuktikan bahwa kami bisa bekerja maksimal dengan orang-orang hebat yang saya kenal. Luar biasa lah kru Idea Mall! Special thanks to Ria, Amy, Ricky, Febri, Erick, Dep, Farid, Umar, Billy, Bimo, Pitonk, Fifi, Firman, Andry, Ikhwan, Avi, dan teman-teman lainnya yang saya tidak bisa sebutkan satu persatu. (cerita lengkapnya bisa diliat disini )

 Hmm…setelah itu apa lagi ya? Oh, mungkin layak kalau berikutnya adalah bergabung di Kementerian Pendidikan HME ITB. Dulunya kementerian ini adalah kementrian pengembangan karakter, namun diubah untuk memperluas fungsi dan tujuan dari BP HME ITB periode 2009/2010. Menkonya adalah Javier, dengan menteri-menterinya yaitu Imam, Agam, dan Azizah. Saya masuk kementerian ini untuk memenuhi hasrat saya akan bidang kaderisasi. Ya, saya senang dengan hal-hal berbau kaderisasi sejak jaman SMA, selain bidang pengabdian masyarakat. Namun akhirnya saya memilih bidang kaderisasi sebagai jalan saya, untuk memuluskan mimpi saya untuk menjadi kahim HME ITB.

Melihat siapa yang ada di kementerian ini, awalnya saya optimis. Isinya ada orang-orang hebat. Dan di bayangan saya, satu tahun ke depan kementerian ini akan menjadi yang paling progresif dan memberikan dampak nyata. Tapi ternyata ada masalah lain. Ibarat tim sepakbola, kementerian ini bagaikan Real Madrid yang penuh bintang namun tidak bisa dipadukan menjadi sebuah tim yang solid. Faktor pelatih menjadi vital, karena dengan strategi dan pendekatan yang tepat maka hasilnya bisa maksimal. Saya gak mau menyalahkan lebih jauh sih, tapi yang jelas faktor menko dan bagaimana treatmentnya sangat berpengaruh. Masalah lain yang muncul adalah potensi konflik yang sungguh besar, disebabkan oleh kepribadian orang-orang yang ada di kementerian ini. Semua karakteristik yang ada menjadikan banyaknya konflik, mulai dari masalah loyalitas, ketidakcocokan, sampai akhirnya harus ada yang mundur. Tapi dibalik itu semua banyak pembelajaran yang saya dapat, karena pada akhirnya kami yang bertahan mencoba mencari cara agar semua masalah ini bisa diperbaiki. Kami mencoba membentuk suasana yang senyaman mungkin dan meskipun kurang maksimal, akhirnya suasana itu bisa terbentuk. Intinya satu tahun bersama kementerian Pendidikan adalah sebuah masa yang berat dan penuh pembelajaran.

Yak, sudah terlalu panjang. Padahal belum banyak yang saya ceritakan. Baiklah, sekian dulu untuk sekarang. Nantikan saja kelanjutannya di bagian berikutnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s