nyaris

Nyaris. Sekali lagi, nyaris.

Kita kembali gagal. Padahal kesempatan di depan mata.
Ah, jika ingin menyalahkan, sudah terlalu banyak yang harus disalahkan.
Semua juga sudah tahu siapa dan apa yang harus dibenahi.
Negeri ini sudah terlalu haus prestasi.
Karena itu tak usahlah ditunggangi ambisi pribadi.
Lihat sendirilah apa yang terjadi.
Ah, buat apa mengingatkan, mereka tak punya hati untuk meresapi, dan tak punya mata untuk mengamati.
Yasudahlah. Tulisan ini hanya sebuah curahan hati belaka. Saya gak berharap muluk-muluk, semoga mereka sadar bahwa Sepakbola bukan kendaraan politik. Saatnya mencari sosok yang tulus, dan memang berkompeten untuk membuat negara ini bangga dengan persepakbolaan negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s