The Power of Community

Kembali. Kembali lagi memenuhi hasrat yang sempat hilang. Ya, akhir-akhir ini saya sedang tidak mood menulis. Padahal saya merencanakan untuk terus menulis tiap hari, minimal 1 tulisan per hari. Sayang rutinitas yang padat cukup membuat saya kehilangan fokus dan niat untuk menulis. Yasudahlah, sekarang saatnya menulis lagi.

Pagi ini saya pergi ke Car Free Day Dago. Dan disana selalu ramai. Ramai oleh kumpulan orang dengan aktivitasnya masing-masing. Hanya untuk sekedar olahraga pagi, bermain sepeda, atau mencari sarapan pagi seperti saya. Yang menarik di CFD ini, hampir semua komunitas yang ada di Bandung menampakkan dirinya disini. Komunitas yang mungkin kita tidak pernah tau bahwa mereka ada. Komunitas-komunitas unik yang berusaha mengeksiskan diri dengan caranya masing-masing. Dan komunitas-komunitas ini tidak jarang menarik perhatian pengunjung dan memancing mereka untuk menyaksikan lebih jauh. Silahkan datang ke CFD jika kalian penasaran.

Begitulah kekuatan sebuah komunitas. Sekumpulan orang dengan visi yang sama, mimpi yang sama, cita-cita yang sama. Adanya komunitas membuat kita tidak merasa sendiri dan memiliki kekuatan yang cukup untuk bisa melakukan perbedaan. Komunitas membuat idealisme dan mimpi-mimpi kita tetap terjaga. Komunitas membuat segalanya menjadi mungkin.

Perubahan besar itu dimulai dari pergerakan besar. Dan komunitas adalah wadah untuk memulai perubahan besar itu. Jika anda meras anda harus melakukan perubahan atas kondisi yang ada, mari kita bergerak bersama membentuk komunitas penggerak untuk perubahan.

Demi HME yang PRODUKTIF, BERMANFAAT, dan BERSAHABAT

Save the best for the last

wah, udah agak gak keurus lagi ini blog, jadi diapdet lagi deh.
3 minggu kedepan bisa dibilang masa yang cukup berat.
tapi yang jelas harapan saya cuma satu, jika memang ini yang terbaik, semoga dimudahkan oleh Yang Maha Kuasa.

Karena semua berawal dari cinta dan dedikasi.
Untuk HME yang lebih produktif, bermanfaat, dan bersahabat.

Save the best for the last.

Memulai perjuangan kembali

Dan hari ini hasil verifikasi diumumkan. Ternyata semua bakal calon ketua himpunan lolos verifikasi. Alhamdulillah, ternyata kerja keras di detik-detik terakhir gak sia-sia. Allah masih memberiku kesempatan.

Tantangan lebih besar menantiku di depan mata. Aku hanya berusaha memantapkan diri, meneguhkan hati, dan berjuang semaksimal mungkin, beradu ide serta pandangan dan mimpi untuk kedepannya. Tiga minggu ke depan akan amat sangat melelahkan. Aku tak peduli hasil akhirnya, menang atau kalah. Yang penting semua demi kebaikan himpunanku, tempat aku bernaung dan tempat aku belajar banyak hal.

Bismillah. Bila ini yang terbaik, mudahkanlah hamba-Mu yang lemah ini ya Allah…

perjuangan tiada akhir

alhamdulillah, akhirnya setelah berjuang keras seharian, terkumpul juga semua syarat yang dibutuhkan untuk bisa lolos sebagai calon ketua HME ITB. Awalnya saya agak pesimis. Bagaimana tidak, saya harus mengumpulkan 250 dukungan dan harus dikumpulkan jumat malam ini, sedangkan sampai kemarin saya baru mengumpulkan 150an tanda tangan. Belum membuat essay dan SWOT serta rancangan proker. Awalnya saya sudah pasrah, namun setelah diyakinkan oleh kawan saya, satu dari sedikit yang masih berada di kubu saya, saya memutuskan untuk habis-habisan minimal untuk memenuhi persyaratan. Perkara akhirnya lolos verifikasi atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting saya sudah maksimal. kawan-kawan yang membantu saya juga sudah maksimal. dan saya yakin, segala sesuatu yang dilakukan dengan maksimal tentu gak ada yang sia-sia.

Setelah ini saatnya tidur, istirahat sejenak, sambil menunggu hasil verifikasi untuk kemudian berjuang lagi.

Sekali lagi, ini doa andalan saya saat ini :

Ya Allah, jika ini jalan yang terbaik untukku, maka mudahkanlah…

Ya Allah, jika ini jalan yang terbaik untukku, maka lapangkanlah…

Ya Allah, jika ini jalan yang terbaik untukku, maka tunjukkanlah yang terbaik…

Bismillah. Semoga diberikan yang terbaik.

 

 

zzzz

tinggal hari ini dan besok. dan saya masih belum tau harus bagaimana. gak tau apakah ini yang terbaik atau tidak. gak tau apakah harus mengandalkan diri sendiri atau bagaimana. aaah, entahlah, saya merasa setiap langkah yang saya ambil adalah langkah yang salah. gak yakin sama diri sendiri. gak ngerti harus gimana. diri ini terlalu tertekan dengan segala masalah yang ada. yah, seperti kata senior saya, dalam kondisi seperti ini segala keputusan yang saya ambil bisa begitu sentimentil dan sensitif.
mungkin saya memang terlalu takut. takut melangkah, ataupun takut mundur. bahkan saat ini saya tidak tahu apa motivasi saya untuk maju. bahwa saya sosok yang tepat? entahlah, sepertinya tidak. karena saya paling mencintai apa yang ingin saya pimpin itu? mungkin iya, tapi ini tidak cukup kuat. kekuatan komunitas yang saya punya dulu sudah tidak berpihak kepada saya lagi. bisa dibilang motivasi saya sudah mencapai titik nadir.
maafkan saya kepada orang-orang yang membaca blog ini, bila isinya hanya keluhan, penyesalan, dan rasa tidak pede terhadap diri sendiri. terus terang ini memang masa-masa paling sulit buat saya, jauh lebih sulit dibanding masa-masa sulit sebelumnya. ataukah memang saya yang membuat ini menjadi sulit?
yah, pada akhirnya akan nampak siapa yang memiliki mental pemenang, dan siapa yang memiliki mental pecundang. dan sampai saat ini saya masih belum mampu memperbaiki mental pecundang saya. mungkin memang saya harus kembali lagi menjadi rakyat biasa, untuk berjuang lagi menjadi luar biasa. mari kita lihat dalam dua hari kedepan.

sebuah harapan kecil..

lagi iseng-iseng buka notes fb yang pernah saya tulis, ternyata saya menemukan notes ini. yang saya buat tepat setahun yang lalu.
judulnya seperti judul postingan ini.


“seberapa luas link anda?”
“berapa banyak buku yang anda baca dalam satu minggu?”
“kapan terakhir kali anda nyontek?”
“Pernah nitip absen?”
“kesalahan terbesar apa yang terakhir kali anda lakukan?”
“berapa banyak orang yang pernah anda pimpin?”
“bagaimana track record anda?”
“apa web yang pertama kalian buka?”
“suka baca koran atau berita?”

pertanyaan-pertanyaan yang muncul waktu hearing kedua kemarin ini sungguh membuat saya berpikir lagi. pertanyaan simpel yang membuat saya sadar, saya masih jauh dari mendekati sempurna.

Entah kapan terakhir saya baca buku diluar buku kuliah. Baca koran pun sudah tak sempat. Web pertama yang saya buka gak jauh dari situs jejaring sosial, bukan situs pendidikan ato berita. Link pun tak punya. Track record di itb belom ada. dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin tidak memuaskan. belum lagi paparan visi misi para cakahim yang benar-benar dibangun dari pemikiran dan kajian yang mendalam, menunjukkan track record mereka yang sangat luar biasa. Sungguh membuat saya malu. Saya masih harus banyak belajar dari mereka, agar satu tahun dari sekarang, bila Allah mengijinkan, saya akan berada di tempat mereka berada, dengan mimpi, visi, dan misi yang tak kalah luar biasa dengan mereka. Tidak hanya luar biasa, namun juga membuat HME jadi melegenda. Dan yang terpenting, bukan hanya omong kosong belaka, namun juga dengan tindakan nyata.

Notes ini saya buat dengan harapan agar saya bisa terus belajar dan belajar, karena kita adalah manusia pembelajar. Mohon bimbingannya kawan, agar saya bisa mewujudkan mimpi saya, demi membuat semua orang tersenyum karena HME ITB. mari kita terus belajar dan berkarya di HME, karena HME adalah tempat untuk bermimpi belajar berkarya dan berkontribusi.


Sungguh gak nyangka, saya pernah menulis ini setahun yang lalu. sebuah respon atas merasa rendah dirinya saya melihat orang-orang hebat itu. Setahun berlalu, sudah siapkah saya? sudah lebih baikkah saya? apakah saya memenuhi ekspektasi teman-teman saya? ataukah saya harus mengubur mimpi saya itu? ataukah mungkin ada cara lain yang bisa saya tempuh untuk memenuhi mimpi-mimpi saya itu?


(notes asli bisa diliat disini)

Pengakuan?

Waktu ternyata berjalan terlalu cepat, sungguh begitu cepatnya.

Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di sini, sebagai anak baru, anak ingusan yang tidak tahu apa-apa dan mencoba mengenali kehidupan disini. Merintis karir, membangun mimpi, menancapkan ambisi.

Rasanya baru kemarin juga saya menyaksikan empat orang calon pemimpin  berdialektika dan beradu ide demi memperebutkan posisi nomor satu. Mereka semua membuat saya kagum dan bertanya-tanya, apakah saya mampu melakukan hal yang sama setahun lagi? Apakah saya mampu menjadi orang yang sama hebatnya seperti mereka satu tahun lagi?

Dan ternyata, satu tahun sudah berlalu. Sungguh tidak terasa. Sudah setahun aku merintis langkah dan cita-cita menuju saat ini. Saat dimana aku bisa membuktikan apakah aku sudah layak dan pantas.

Ya, apakah saya layak dan pantas?
setelah semua yang saya lakukan, kebimbangan hati yang saya alami, dan apa yang saya pilih sekarang. Apakah saya masih pantas?

Entahlah, saya tidak tahu harus menjawab apa. Harus diakui, kondisi yang ada cukup sulit, walaupun semuanya mungkin.

Entahlah, saya hanya berjuang untuk yang terbaik, minimal untuk 4 hari kedepan. Bismillah.

My Pray

Ya Allah, jika jalan ini yang terbaik untukku, maka mudahkanlah…
Ya Allah, jika jalan ini yang terbaik untukku, maka lapangkanlah…
Ya Allah, jika jalan ini yang terbaik untukku, maka ridhoilah…

sebuah doa sederhana yang akhir-akhir ini selalu saya panjatkan kepada Maha Pemberi Petunjuk. Semoga ini memang yang terbaik. Amin.