Obrolan tengah malam

Kisah ini berawal dari sebuah obrolan malam bersama lima orang kawan : Alfian, Mike, Ijul, Sandy, dan Niam. Saya ingat saat itu jam menunjukkan pukul 00.40 WIB, dan kami memutuskan untuk makan di Dwilingga, warung roti bakar di dekat kampus yang sudah jadi andalan untuk menghilangkan lapar dan kantuk di tengah malam. Kami menjatuhkan pilihan kesini karena warung SR yang biasanya jadi opsi pertama entah kenapa belum buka. Curiganya diusir. Semoga tidak, karena pasti banyak yang protes.

Karena tidak dapat tempat duduk, kami memilih mengambil tiga buah kursi panjang yang ada dan ngobrol di luar. Dua jam lebih kami bercengkerama disana. Kami sebut dengan “Konferensi Segitiga”. Awalnya serius, seperti membahas organisasi kampus, masalah angkatan, dan kaderisasi. Namun lama-lama jadi berujung ke masalah pribadi. Hahaha. Benar-benar dapat banyak pembelajaran soal hidup dari obrolan ini. Thanks guys! Ditunggu obrolan-obrolan selanjutnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir jam 3 pagi. Karena saya masih ada kuliah pagi, maka obrolan harus segera disudahi. Sandy pulang dengan motornya, Ijul dengan Avanza-nya, dan sisanya nebeng dengan saya. Atas permintaan Mike, saya pulang lewat jalur belakang, lewat kebun binatang. Niam turun di Kebun Bibit. Walhasil selama perjalanan melalui kebun binatang kami tinggal bertiga.

Di tengah suasana malam yang sunyi, sepi, dan cukup membuat merinding, tiba-tiba Alfian memulai pembicaran yang agak bikin ngeri.

Alfian : Eh Ga, kalo misalnya di tengah jalan ini ada cewe, lo mau ngapain?


Saya : Anjir lo malem-malem gini knapa ngomongin begituan dah? Udah diem ah!


Mike : Udah gak usah takut, kalo gw mah gw sikat aja, gw tabrak, Β bukan cewe beneran kan pasti kalo kayak gitu.

Tak lama setelah kami berdebat gak penting tentang hal ini, tiba-tiba di kiri jalan ada sesosok wanita sedang berjalan. Sendirian.

Suasana menjadi mencekam saat itu. It’s 3 o’clock in the morning! What’s she doing? Jalan sendirian pula!

Pikiran macam-macam sempat menyelimuti otak saya. Jangan-jangan makhluk yang bukan-bukan. Namun saya yakin itu beneran orang, karena penampilan sekilasnya cukup meyakinkan, dan jalannya di pinggir, bukan di tengah jalan. Hahaha.

Yasudahlah, dengan perasaan agak panik saya akhirnya mengantarkan Mike serta Alfian hingga ke gerbang belakang kampus karena Mike akan mengambil motornya. Saking paniknya saya sudah menancap gas padahal pintu belum ditutup. Hahaha.

Yak, demikian pengalaman cukup menarik yang saya alami kemarin. Nantikan saja pengalaman menarik lainnya disini. Sekarang saatnya belajar untuk kuis dua hari lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s