Jogjakarta Berhati Nyaman (Catatan Mudik #3)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Laailaahaillallahu Allahu Akbar…
Allahu Akbar Walillahilhamdu…
Gema takbir berkumandang. Membangunkan saya dari tidur pulas semalaman. Gak terasa, hari ini adalah hari kemenangan. Hari dimana (seharusnya) kita telah kembali menjadi fitri. Makanya disebut Idul Fitri. Tak mau berlama-lama terlena, saya pun menyegerakan shalat subuh dan mandi agar bisa tepat waktu untuk shalat ied.
Sambil mempersiapkan diri, saya jadi teringat. Hari ini ada dua kejadian penting lainnya. Pertama, kawan saya Renata Permatasari berulang tahun. Dan yang kedua, ini yang menurut saya paling spesial, karena hari ini adalah genap empat tahun saya bersama teman-teman terbaik saya, Pengurus OSIS XLII SMAN 8 Jakarta. Sahabat-sahabat terhebat yang pernah saya punya. Rasanya perlu sebuah postingan khusus tentang mereka. Nanti lah ya. Yang penting, Happy Birthday Renata! Happy Birthday PO XLII!
Tidak seperti beberapa edisi terakhir dimana saya ikut shalat ied di Jogja, kali ini kami sekeluarga shalat ied di Klaten, tepatnya di Stadion sepakbola. Kalau ada yang main bola gimana? Mana ada, kan pada shalat smua, mau tobat soalnya tiap main bola berantem mulu, nyalahin wasit yang kerjanya emang kebanyakan gak becus. Ah naon sih, kok jadi bahas wasit. Ya intinya kami shalat ied disana. Gak ada yang terlalu spesial sih, saya gak fokus sama khotbahnya. Palingan isinya standar : Makna Idul Fitri dan menjadi Fitrah kembali, ataupun sejenisnya lah. Bukannya saya udah jago, tapi itu udah sering didenger. Hehehe. Jadi saya menyempatkan diri menulis notes buat all my beloved Besfriends ajah.
Ritual lebaran pun tidak jauh berbeda tiap tahunnya : Salam-salam bersama ortu, adek, eyang, eyang buyut, dan menerima tamu yang bersilaturahmi. Tak lupa juga makan-makan. Santapannya nikmat, opor ayam, sayur, dan sambal goreng. Mantab! Tapi ada yang berbeda sedikit : hari ini saya jadi montir dadakan! Ini gara-gara mobil pinjaman ayah saya mengalami bocor ban. Tertusuk sekrup ternyata. Besar sekali, sebesar jari kelingking. Terpaksa diganti deh. Butuh kerja keras juga sampai akhirnya ban mobil Innova ini bisa diganti. Yah, walaupun kerja saya Cuma naikin dongkrak dan nyuruh-nyuruh bagaikan orang paling jago, at least saya konkret lahπŸ˜€
Tak terasa waktu cepat berlalu, dan akhirnya sudah saatnya kami harus pindah kota. Kali ini tujuannya adalah kota favorit saya : Jogjakarta. Saya akui, Jogja lebih menarik dari Klaten. Lebih banyak yang bisa dieksplor dan dikunjungi di kota pelajar ini. Sesuai dengan mottonya : Jogjakarta Berhati Nyaman. Kota ini emang bisa membuat saya lebih nyaman. Dan semoga suasana hati saya bisa dibuat nyaman juga, hehehe. Tapi sebelum menuju kesana, nyokap tiba-tiba minta pengen makan soto kadipiro, soto yang cukup terkenal di Jogja sampai-sampai banyak cabangnya. Aneh, padahal kami tadi udah makan siang di Klaten. Tapi yasudahlah, sikat ajah. Dan walhasil, saya kekenyangan, hahaha.
Tiba juga di Jogjakarta. Sebelum menuju Wisma Kagama, tempat kami menginap, kami numpang lewat sejenak di Bulaksumur C-21, rumah yang punya banyak kenangan. Ya, disinilah rumah tempat ayah saya dulu tinggal. Sekarang sudah kosong, karena harus diserahkan ke UGM akhir bulan ini. Entah kenapa, saya ingin esok bisa datang kesana dan mengambil beberapa foto sebgai kenang-kenangan. Mudah-mudahan bisa deh.
Dan malam ini petualangan dimulai : Wisata kuliner! Tujuan awal sebenarnya standar : Iga bakar. Karena yang di daerah kaliurang tutup, kami memutuskan pergi ke daerah Gejayan. Ternyata setali tiga uang, tutup juga. Nasib deh, gagal makan iga bakar favorit saya tiap ke Jogja. Plan B pun dipilih, makan di Malioboro. Namun suasana macet menggagalkannya. Ayah saya terlihat agak malas dan gak konsisten. Akhirnya beliau mengeluarkan sebuah opsi : Bakmi Kadin. Bukan Kepala Dinas yah, tapi saya lupa, singkatan dari dua orang, saya lupa namanya, haha. Yasudahlah, daripada gak makan mending kesana ajah.
Lama juga nunggu makanan disini. Mungkin emang udah kebiasaan warung makan yang menunya bakmi jawa yah, kalo masak lama pisan. Udah gitu kata ortu saya rasanya kurang oke lagi. Tapi kok saya nikmat-nikmat ajah yah?Yah mungkin karena saya kelaperan mulu, hahaha. Perut saya langsung buncit pasca makan malam. Gawat nih, naik berapa kilo setelah lebaran yah? -_-
Hari ini pun sekian sajah. Esok hari akan menjelang, dengan beberapa agenda silaturahmi. Biasanya sih standar-standar ajah, tapi coba dinikmati ah.
Ditulis 10 Sept 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s