Berangkat! (Catatan Mudik #1)

Tidak adanya koneksi internet tidak membuat saya menghentikan niatan saya untuk tetap membuat satu tulisan dalam satu hari. Mungkin gak bisa terpublish tiap hari, tapi gak masalah. Yang penting ide-ide ataupun inspirasi yang muncul tetap bisa tersalurkan. Nah, berikut ini merupakan catatan-catatan menarik yang saya alami selama mudik kali ini. Gak selamanya tentang perjalanannya sih, apapun bisa saya tulis. Semoga bisa dinikmati. Hehehe.

Baiklah, saya mulai dari hari pertama : Rabu, 8 September 2010. Hari ini perjalanan dimulai. Tujuan pertama gampang aja : Bandara Soekarno-Hatta. Lah, ngapain coba kesana? Emang ada sodara yah disana? Yah, kan kalo kesana bukan berarti ada sodara. Kita kan mau mudik naik pesawat, jadi mesti kemana lagi selain ke M*D, eh salah, kemana lagi selain ke Bandara?
Kami tiba pukul delapan, lebih cepat dua jam dibanding jadwal take-off. Bakal geje nih, pikir saya. Jadilah begitu selesai check-in saya bergerak ke bookstore. Tiba-tiba saya kalap dan membeli tiga bacaan : Tabloid Soccer (untuk menambah skill analisis sepakbola), Tabloid Pulsa (kali aja ada HP android yang murah, hehe), dan Novel Negeri 5 Menara (Novel yang katanya bagus banget, jadi penasaran). Padahal saya udah bawa dua novel, salah satunya Recto Verso. Tapi dasar saya, kalo liat buku bagus pasti langsung beli. Yasudahlah, dibaca saja.

Perjalanan satu jam ke Bandara Adi Sumarmo Solo sungguh tidak berasa. Iya lah, wong saya terlelap sepanjang perjalanan. Bangun-bangun udah mau landing ajah. Gapapa sih, soalnya saya termasuk yang phobia ketinggian, jadi kalo ngebayangin suka ngeri ajah. Mending tidur deh. Hehehe. Begitu turun dari pesawat saya langsung terkagum-kagum. Bandaranya (masih) bagus, bersih. Mungkin karena saya belum pernah kesini kali yah.

Kami dijemput oleh karyawan Dept.PU yang ada di Jogja. Dengan mobil kantor, kami meluncur menuju Jogjakarta sejenak untuk beli ayam goreng Suharti, buat oleh-oleh di rumah eyang buyut di Klaten. Sepanjang perjalanan, saya teringat dengan slogan kota Solo : Solo, The Spirit of Java. Saya jadi semangat sendiri pas mengingat slogan ini. Dalam hati saya berharap, semoga saya bisa menemukan spirit yang akhir-akhir ini hilang.

Singkat cerita, tibalah kepada saat yang berbahagia #naon tibalah kami di rumah eyang buyut. Ya, Eyang buyut. Neneknya ibu saya. Alhamdulillah yah, masih diberi kesempatan sama yang Maha Kuasa untuk menikmati indahnya kehidupan. Udah 90an tahun loh umurnya, tapi masih inget sama saya dan keluarga, hehehe. Anyway, sambutan yang kami dapat ya seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya. Disambut oleh eyang, om, dan eyang buyut. Obrolan santai pun dimulai, walaupun kebanyakan basa-basinya, seperti “Kapan pulang?”,”Naik apa kesini?”,”Nanti sholat ied dimana?”, “Kapan punya pacar?”.

Karena cukup lelah, semua langsung pada tidur setelah shalat ashar di masjid sebelah rumah. Ya, sungguh beruntung yah kalo ada masjid sangat deket dengan rumah, bisa selalu ibadah di masjid. Anyway, saya gak ikutan tidur. Karena penasaran dengan si novel negeri 5 menara itu, makanya saya membacanya dulu. Masih awal-awal sih, tapi kisahnya cukup menarik. Nampaknya saya bakal bikin postingan khusus nih setelah seleasi baca. Semoga cepet kelarnya deh.

Waktu berbuka di Klaten dan sekitarnya jauh lebih cepat dibanding di Jakarta atau Bandung. Jadi lumayan lah, puasa saya jadi lebih pendek waktunya, hohoho. Sambil nunggu, kami sekeluarga ngabuburit dengan nonton teve, dan acara yang beruntung adalah Upin & Ipin! Hahaha, entah kenapa sejak pulang dari Bandung saya jadi senang nonton acara ini. Gara-gar adik saya nampaknya. Lucu juga sih tapi, kartun dengan bahasa melayu. Grafiknya juga bagus dengan konten yang berisi. Kenapa yah Indonesia gak bisa bikin (atau belum mau bikin?) kartun kayak gitu? Saya yakin orang Indonesia gak kalah lah sama Malaysia. Jadi kalo kata saya, kalo emang mau perang sama mereka mah perangnya yang konkret-konkret ajah, buktiin pake karya, tunjukin kalo kita gak kalah sama mereka. Hehehe. Kok jadi ngomongin ganyang Malaysia gini deh.

Dan tarawih terakhir pun ditutup dengan beberapa hal menarik : Tarawihnya cepat sekali (jam 8 udah kelar), Ceramahnya pake bahasa Jawa (I don’t understand every single word), dan durasi ceramahnya sungguh singkat (Cuma 15 menitan). Hahaha. Sambil mencoba melanjutkan tilawah yang sepertinya tak mungkin mencapai 30 juz, saya jadi kepikiran apa yang terjadi saat Ramadhan tahun lalu. Suram buat kehidupan percintaan saya. Hahaha. Udah ah gak mau dilanjutkan. Ntar galau lagi.
            
Sekarang sudah jam 9 kurang 5 menit. Kami sekeluarga sudah dalam posisi siap tidur. Dan adik saya tetap usil seperti biasa. Saatnya beristirahat sambil berpetualang di negeri 5 menara. Semoga di hari terakhir Ramadhan besok banyak momen-momen yang lebih menarik lagi.
Ditulis 8 Sept 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s