Ada Yang …

Sumber: salah satu foto di Path

Pasti ada yang kayak gini deh :)) (Sumber: salah satu foto di Path)

Beberapa hari lalu, saat sedang membuka-buka Path, saya menemukan sebuah gambar yang lucu seperti yang saya tampilkan di atas ini. Begitu melihat gambar ini, saya langsung terpikir: “bener juga ya, kayaknya diantara temen-temen gw ada juga yang kayak begini.” Hal ini karena setidaknya dua dari empat poin yang disebut diatas ternyata ada di kelompok teman-teman saya waktu kuliah dulu. Penasaran dengan reaksi mereka, saya forward gambar tersebut ke grup sambil bilang: “bener gak tuh?”

Continue reading

Komitmen

Kalau kata orang bijak, selesaikanlah apa yang telah kamu mulai. Selain itu jangan tanggung-tanggung, lakukan dengan totalitas dan sepenuh hati. Ini yang saat ini sedang saya coba lakukan di organisasi yang saya ikuti.

Di akhir masa kepengurusan, saya hanya mencoba melakukan sebaik mungkin untuk tetap berkomitmen dan menyelesaikan apa yang telah menjadi tanggung jawab saya. Satu program besar telah menanti di akhir bulan agustus ini. Cerita dibalik persiapannya tidak akan saya paparkan sekarang, tapi yang jelas saya hanya ingin semuanya berjalan dengan baik. 

Alasannya hanya satu, saya tidak ingin organisasi ini menjadi angin lalu saja tanpa memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang. Karena itu, komitmen besarlah yang menjadi kuncinya. Semoga apa yang telah diperjuangkan selama ini memberikan hasil. Amin.

Antara Delft dan Leiden

Selama menjalani studi di Belanda, bisa dibilang saya berada dalam kondisi yang unik. Kenapa? Karena walaupun saya berkuliah di TU Delft, saya tinggal tidak di Delft. Ini sebenarnya adalah hal yang biasa, karena banyak juga mereka yang tinggal di daerah sekitar Delft seperti Den Haag, Rijswijk, hingga Schiedam. Namun yang membuat unik adalah saya memilih tinggal di kota Leiden yang secara jarak lebih jauh dibanding kota-kota tersebut.

Pertanyaan lanjutannya: kenapa Leiden? Well, sebenarnya simpel saja, karena istri saya menjalani kuliah di Leiden University selama setahun. Dan dengan kondisi demikian saya harus sedikit mengalah agar istri saya tidak perlu travelling terlalu jauh. Setidaknya butuh 20 menit untuk melakukan perjalanan kereta dari Leiden ke Delft. Ditambah 10 menit bersepeda dari stasiun ke kampus, total saya butuh setengah jam perjalanan setiap hari. Tidak lama sebenarnya, mengingat sistem kereta di Belanda yang reliable, apalagi jika dibandingkan dengan di Jakarta, namun tetap saja ada waktu yang sayang terbuang. Sebenarnya kami juga memiliki opsi untuk tinggal di Den Haag, yang berada di tengah antara Leiden dan Delft. Sayangnya dulu kami tidak beruntung mendapatkan rumah yang sesuai dari sisi budget dan lokasi.

Apa implikasi dari kondisi ini? Pertama, saya harus berlangganan paket kereta yang agak lebih mahal dibanding teman-teman yang lain. Paket yang saya pilih adalah dal vrij, dimana saya harus membayar 99 euro per bulan supaya saya bisa travelling gratis di luar jam sibuk (06.30-09.00 dan 16.00-18.30). Setelah dihitung-hitung, nominal ini adalah yang termurah dibandingkan jika saya berlangganan paket-paket yang lain, tentu dengan catatan saya harus berangkat setelah jam 9 pagi dan pulang setelah setengah 7 sore. Memang sedikit costly, tapi untuk sekarang ini adalah deal terbaik.

Implikasi kedua adalah domisili PPI. Berhubung saya kuliah di Delft, seharusnya aktivitas PPI saya lebih banyak di PPI Delft, secara saya hanya “numpang tinggal” di Leiden saja. Namun faktanya tidak demikian karena bisa dibilang banyak waktu yang dihabiskan untuk melakukan perjalanan PP Delft-Leiden seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Tapi, saya pun juga tidak banyak turut serta dalam aktivitas-aktivitas di PPI Leiden, dan ini lebih karena ketidakcocokan jadwal akademik dengan teman-teman di Leiden. Meski demikian, saya tetap berusaha nimbrung dengan teman-teman di kedua kota ini, dan benefit-nya adalah saya bisa mendapatkan network pertemanan yang jauh lebih luas. Saya tidak hanya bisa mendapat perspektif dari anak-anak teknik, tapi juga dari teman-teman berlatar belakang sosial. Sungguh jadi sesuatu yang menarik dan Insya Allah bermanfaat.

Memasuki tahun kedua perkuliahan, saya dan istri sepakat untuk mencari tempat tinggal di Delft pasca istri saya melahirkan. Ada sejumlah alasan terkait keputusan ini. Pertama, istri saya telah selesai studi, sehingga tidak ada kepentingan mendesak lagi di Leiden. Kedua, menghemat biaya yang harus dikeluarkan, terutama dari sisi transportasi. Ketiga, meningkatkan produktivitas dan mobilitas, karena dalam satu harinya saya bisa memiliki 40 menit extra yang dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang produktif. Memang tidak gampang mencari tempat tinggal di Delft, apalagi di bulan Januari yang merupakan masa tengah tahun perkuliahan, tapi semoga saja kami beruntung dan mendapatkan tempat tinggal yang cocok dengan kriteria kami. Amin.

Satu Tahun

Tak terasa, ternyata sudah setahun saya menjalani studi di Belanda. Sekarang sedang masa liburan musim panas sebelum lanjut perkuliahan semester baru tanggal 31 agustus nanti. Selama rentang setahun kebelakang itu, banyak sekali hal-hal penting yang saya alami dan most likely akan mengubah perjalanan hidup saya kedepannya. Mulai dari kehidupan akademik yang baru dan penuh tantangan, kehidupan organisasi pelajar Indonesia di Belanda, dan tentunya kehidupan berkeluarga. Saya akan coba membagi cerita-cerita ini dalam beberapa tulisan yang mudah-mudahan menarik untuk dibaca dan bisa menggambarkan bagaimana rasanya hidup merantau di negeri orang. Yang jelas, tantangannya akan berbeda, dan mungkin lebih berat, tapi tantangan itulah yang akan membuat kita lebih kuat dan hebat, melewati batas-batas yang selama ini kita takutkan dalam hidup.

Rehat (Sebuah Napak Tilas)

Berorganisasi telah menjadi sesuatu yang sungguh menarik perhatian saya sejak dulu. Dimana ada kesempatan untuk menempa diri di organisasi kesiswaan ataupun kemahasiswaan, disitu saya berusaha untuk hadir dan aktif terlibat. Entah apa pendorongnya, tapi mungkin dorongan untuk membuktikan diri dan memberikan manfaat bagi orang banyak adalah beberapa faktornya.

Continue reading

MSc Story : Policy Analysis of Multi Actor System (Study Case in Kerala, India)

Kerala, India (Sumber : keralagreenery.com)

Ceritanya di Quarter ini salah satu mata kuliah yang saya ikuti bernama Policy Analysis of Multi Actor Systems. Salah satu case study-nya adalah tentang Kerala, salah satu daerah pinggir pantai di India bagian barat daya. Daerah ini punya natural resources yang sangat melimpah, hasil perikanannya banyak, dan banyak pohon kelapa yang bisa dimanfaatkan. Pariwisata juga cukup menjanjikan disana. Kualitas sumber daya manusia di sana sendiri juga cukup bagus, karena memilki literation rate tertinggi di India.

Continue reading

Kutipan #3

Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali!

(Tan Malaka)