Anomali Sharing Economy di Jakarta

1127575img-20150731-wa00011780x390

Ilustrasi gambar via kompas.com

Tiga bulan ke belakang, saya melakukan aktivitas rutin saya di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Mengingat saya tinggal di Kalibata, maka opsi menggunakan commuterline menjadi pilihan saya. Rute perjalanan saya sendiri tidak sulit dan tidak perlu banyak berpindah. Cukup jalan kaki dari rumah ke stasiun Kalibata, lalu naik commuterline sampai Tebet, dan kembali berjalan kaki sampai tujuan. In total, biasanya saya menghabiskan waktu sekitar 30 menit door-to-door. Dengan biaya hanya 3000 rupiah untuk ongkos commuterline, saya rasa rute ini cukup worth untuk dilakukan. Apalagi, dua tahun ke belakang saya sudah cukup biasa berjalan kaki ataupun naik sepeda dari rumah ke kampus ataupun di area kampus. Jadi, no problem lah untuk jalan jauh 😀

Tapi rute ini memang cukup tricky, terutama kalau jam pulang kantor. Jika saat berangkat biasanya commuterline sudah lebih manusiawi (saya berangkat sekitar 08.30), saat pulang justru keganasannya memuncak karena penuhnya tiada terkira. Makin parah jika pada akhirnya ada commuterline yang mengalami gangguan, maka yang terjadi adalah penumpukan penumpang yang membuat kita mengelus dada sambil harap-harap cemas, bertanya dalam hati “kapan ya bisa sampai rumah?” 😦

Jika kondisi sudah seperti ini, biasanya saya memilih untuk membuka ponsel saya dan masuk ke aplikasi ojek online yang saya punya. Istilah kerennya, peer-to-peer ridesharing services, sebagai bagian dari sharing economy. Harganya memang jadi lebih mahal dibanding naik commuterline, dan terkadang waktu tempuh jadi lebih lama juga dibanding naik commuerline dalam kondisi normal, tapi saya pikir daripada tidak jelas kapan sampai di rumah, lebih baik opsi ini yang diambil. Terima kasih Uber, Go-Jek, dan Grab yang sudah menemukan inovasi yang mengubah hidup kita ini!

Bicara soal sharing economy, ada fenomena menarik yang sering saya perhatikan selama saya pergi dari rumah ke tempat aktivitas saya ataupun sebaliknya. Di sekitar stasiun, ataupun area publik, saya selalu melihat para driver dari ridesharing service provider tersebut duduk bergerombol sambil bercengkerama, main kartu, ataupun minum kopi. Mereka menghabiskan waktu sambil menunggu order datang ke ponsel mereka. Bagaimana kalau mereka tak kunjung dapat order? Mungkin mereka akan terus menunggu, atau jika sudah menyerah, akhirnya pergi ke tempat lain yang lebih ramai.

Fenomena ini menarik menurut saya, karena ide dasar dari sharing economy dan collaborative consumption berawal dari banyaknya resource kita yang menganggur atau tidak terutilisasi dengan baik. Hal ini memunculkan ide untuk membuka akses terhadap resource yang kita miliki kepada orang lain agar lebih memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak. Si pemilik barang bisa mendapat pemasukan tambahan dengan melakukan sharing resource, dan si pengguna barang bisa menggunakan barang yang dibutuhkan dengan harga terjangkau. Selain itu, dalam konteks ridesharing praktik semacam ini menawarkan fleksibilitas kepada para driver sehingga mereka bisa tetap produktif dalam mengutilisasi waktu mereka sambil tetap mendapatkan penumpang.

Nah, apabila kita membenturkan konsep sharing economy ini dengan fenomena yang saya sebutkan sebelumnya, maka kita akan menemukan sedikit keanehan. Mengapa? Karena alih-alih memanfaatkan waktu kosong mereka dengan melakukan aktivitas produktif lainnya, mereka justru menghabiskan waktu mereka menjadi full-time driver dan lebih banyak menunggu order masuk saja. Masalah lain, banyaknya driver dari ridesharing services yang berkumpul di berbagai titik di sekitar stasiun membuat pengguna jalan yang lain (e.g. mobil atau pejalan kaki) menjadi terganggu karena lahan mereka terambil oleh para driver ini. Akibatnya, muncul kesan tidak rapi dan tertib sebagai dampak dari aktivitas mereka.

Menariknya lagi, ada cerita bahwa di Jakarta sejumlah orang justru membeli kendaraan untuk bisa menjadi driver dari ridesharing services tersebut. Besar kemungkinan, mereka tergiur dengan iming-iming penghasilan yang besar dan tergoda untuk menjadi full-time driver. Sayangnya, banyak yang berpikiran serupa dan ujung-ujungnya kompetisi yang keras antar driver pun terjadi. Akibatnya, mereka lebih memilih untuk menunggu pesanan di tempat-tempat strategis dan tidak memanfaatkan waktu untuk hal lainnya.

Apa yang terjadi ini tentu berkebalikan dengan apa yang terjadi di belahan dunia lainnya, dimana para driver biasanya memang telah memiliki kendaraan sebelumnya. Jika seperti ini, sharing economy yang seharusnya bisa membantu menjadi solusi permasalahan kota justru berpotensi menambah masalah dan membuat populasi kendaraan semakin padat. Akibatnya tentu bisa ditebak, kemacetan bisa makin menjadi. Lebih-lebih, keberadaan sharing economy di Indonesia bisa menurunkan insentif bagi Pemerintah untuk segera membenahi transportasi publik, seperti yang dijelaskan oleh kawan saya disini.

Sebagai penutup, dapat kita lihat bahwa adanya teknologi sebagai enabler yang cukup vital dalam praktik sharing economy ternyata tidak serta merta mengubah paradigma masyarakat tentang bagaimana meningkatkan taraf hidup mereka. Seperti yang sudah disampaikan di awal, sharing economy sebenarnya menawarkan fleksibilitas bagi para driver sehingga mereka bisa mengutilisasi waktu mereka untuk hal-hal produktif lainnya. Harapannya jelas, mereka makin produktif, hidup senang, dan taraf hidup meningkat. Anomali yang ada di Indonesia menunjukkan pentingnya keterlibatan pemerintah dalam menyelesaikan masalah yang mungkin jauh lebih besar dari sekedar kemacetan atau transportasi publik. Terakhir, praktik sharing economy seharusnya memberikan manfaat menyeluruh kepada banyak pihak, dan bukan menimbulkan masalah-masalah baru di tengah bertumpuknya masalah di kota Jakarta.

Percaya

Setelah jadi orang tua, saya baru paham bahwa yang paling diinginkan seorang anak adalah rasa percaya dari ayah bundanya.

Percaya bahwa si anak pada akhirnya pasti akan makan jika dia sudah mau.
Percaya bahwa pada akhirnya si anak akan bisa jalan setelah jatuh berkali-kali.
Percaya bahwa si anak nantinya akan bisa bicara, membaca, dan menulis.
Dan hal-hal lainnya.

Dan ketika si orang tua telah menjadi kakek nenek, rasa percaya kepada si anak (yang telah berubah status menjadi orang tua) juga tetap penting.

Percaya dengan makanan yang diberikan orang tua kepada anaknya.
Percaya dengan pilihan si orang tua yang mungkin tidak ingin menitipkan anak ataupun menggunakan baby sitter / asisten rumah tangga.
Percaya dengan metode pengasuhan yang mereka jalankan (yang tentunya terus berkembang tidak seperti masa lalu).

Kalau salah, atau ada apa-apa, terus gimana? Ya cobalah untuk tetap percaya kepada kami. Biarkanlah kami sebagai orang tua yang masih baru ini untuk belajar bagaimana mengandle masalah, seperti halnya orang tua kami belajar ketika dulu anak-anaknya mengalami sesuatu. After all, bukankah manusia memang tempatnya salah dan khilaf? Dan kesalahan itulah yang membuat kita semua belajar kan?

Kesimpulannya, kalau si anak tidak diberi kesempatan dan kepercayaan untuk belajar, lantas kapan si anak akan berkembang dan menjadi lebih baik? Mari sadar akan porsi masing-masing, sebagai anak ataupun orang tua.

Semangat pagi 

Ada Yang …

Sumber: salah satu foto di Path

Pasti ada yang kayak gini deh :)) (Sumber: salah satu foto di Path)

Beberapa hari lalu, saat sedang membuka-buka Path, saya menemukan sebuah gambar yang lucu seperti yang saya tampilkan di atas ini. Begitu melihat gambar ini, saya langsung terpikir: “bener juga ya, kayaknya diantara temen-temen gw ada juga yang kayak begini.” Hal ini karena setidaknya dua dari empat poin yang disebut diatas ternyata ada di kelompok teman-teman saya waktu kuliah dulu. Penasaran dengan reaksi mereka, saya forward gambar tersebut ke grup sambil bilang: “bener gak tuh?”

Continue reading

Komitmen

Kalau kata orang bijak, selesaikanlah apa yang telah kamu mulai. Selain itu jangan tanggung-tanggung, lakukan dengan totalitas dan sepenuh hati. Ini yang saat ini sedang saya coba lakukan di organisasi yang saya ikuti.

Di akhir masa kepengurusan, saya hanya mencoba melakukan sebaik mungkin untuk tetap berkomitmen dan menyelesaikan apa yang telah menjadi tanggung jawab saya. Satu program besar telah menanti di akhir bulan agustus ini. Cerita dibalik persiapannya tidak akan saya paparkan sekarang, tapi yang jelas saya hanya ingin semuanya berjalan dengan baik. 

Alasannya hanya satu, saya tidak ingin organisasi ini menjadi angin lalu saja tanpa memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang. Karena itu, komitmen besarlah yang menjadi kuncinya. Semoga apa yang telah diperjuangkan selama ini memberikan hasil. Amin.

Antara Delft dan Leiden

Selama menjalani studi di Belanda, bisa dibilang saya berada dalam kondisi yang unik. Kenapa? Karena walaupun saya berkuliah di TU Delft, saya tinggal tidak di Delft. Ini sebenarnya adalah hal yang biasa, karena banyak juga mereka yang tinggal di daerah sekitar Delft seperti Den Haag, Rijswijk, hingga Schiedam. Namun yang membuat unik adalah saya memilih tinggal di kota Leiden yang secara jarak lebih jauh dibanding kota-kota tersebut.

Pertanyaan lanjutannya: kenapa Leiden? Well, sebenarnya simpel saja, karena istri saya menjalani kuliah di Leiden University selama setahun. Dan dengan kondisi demikian saya harus sedikit mengalah agar istri saya tidak perlu travelling terlalu jauh. Setidaknya butuh 20 menit untuk melakukan perjalanan kereta dari Leiden ke Delft. Ditambah 10 menit bersepeda dari stasiun ke kampus, total saya butuh setengah jam perjalanan setiap hari. Tidak lama sebenarnya, mengingat sistem kereta di Belanda yang reliable, apalagi jika dibandingkan dengan di Jakarta, namun tetap saja ada waktu yang sayang terbuang. Sebenarnya kami juga memiliki opsi untuk tinggal di Den Haag, yang berada di tengah antara Leiden dan Delft. Sayangnya dulu kami tidak beruntung mendapatkan rumah yang sesuai dari sisi budget dan lokasi.

Apa implikasi dari kondisi ini? Pertama, saya harus berlangganan paket kereta yang agak lebih mahal dibanding teman-teman yang lain. Paket yang saya pilih adalah dal vrij, dimana saya harus membayar 99 euro per bulan supaya saya bisa travelling gratis di luar jam sibuk (06.30-09.00 dan 16.00-18.30). Setelah dihitung-hitung, nominal ini adalah yang termurah dibandingkan jika saya berlangganan paket-paket yang lain, tentu dengan catatan saya harus berangkat setelah jam 9 pagi dan pulang setelah setengah 7 sore. Memang sedikit costly, tapi untuk sekarang ini adalah deal terbaik.

Implikasi kedua adalah domisili PPI. Berhubung saya kuliah di Delft, seharusnya aktivitas PPI saya lebih banyak di PPI Delft, secara saya hanya “numpang tinggal” di Leiden saja. Namun faktanya tidak demikian karena bisa dibilang banyak waktu yang dihabiskan untuk melakukan perjalanan PP Delft-Leiden seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Tapi, saya pun juga tidak banyak turut serta dalam aktivitas-aktivitas di PPI Leiden, dan ini lebih karena ketidakcocokan jadwal akademik dengan teman-teman di Leiden. Meski demikian, saya tetap berusaha nimbrung dengan teman-teman di kedua kota ini, dan benefit-nya adalah saya bisa mendapatkan network pertemanan yang jauh lebih luas. Saya tidak hanya bisa mendapat perspektif dari anak-anak teknik, tapi juga dari teman-teman berlatar belakang sosial. Sungguh jadi sesuatu yang menarik dan Insya Allah bermanfaat.

Memasuki tahun kedua perkuliahan, saya dan istri sepakat untuk mencari tempat tinggal di Delft pasca istri saya melahirkan. Ada sejumlah alasan terkait keputusan ini. Pertama, istri saya telah selesai studi, sehingga tidak ada kepentingan mendesak lagi di Leiden. Kedua, menghemat biaya yang harus dikeluarkan, terutama dari sisi transportasi. Ketiga, meningkatkan produktivitas dan mobilitas, karena dalam satu harinya saya bisa memiliki 40 menit extra yang dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang produktif. Memang tidak gampang mencari tempat tinggal di Delft, apalagi di bulan Januari yang merupakan masa tengah tahun perkuliahan, tapi semoga saja kami beruntung dan mendapatkan tempat tinggal yang cocok dengan kriteria kami. Amin.

Satu Tahun

Tak terasa, ternyata sudah setahun saya menjalani studi di Belanda. Sekarang sedang masa liburan musim panas sebelum lanjut perkuliahan semester baru tanggal 31 agustus nanti. Selama rentang setahun kebelakang itu, banyak sekali hal-hal penting yang saya alami dan most likely akan mengubah perjalanan hidup saya kedepannya. Mulai dari kehidupan akademik yang baru dan penuh tantangan, kehidupan organisasi pelajar Indonesia di Belanda, dan tentunya kehidupan berkeluarga. Saya akan coba membagi cerita-cerita ini dalam beberapa tulisan yang mudah-mudahan menarik untuk dibaca dan bisa menggambarkan bagaimana rasanya hidup merantau di negeri orang. Yang jelas, tantangannya akan berbeda, dan mungkin lebih berat, tapi tantangan itulah yang akan membuat kita lebih kuat dan hebat, melewati batas-batas yang selama ini kita takutkan dalam hidup.

Rehat (Sebuah Napak Tilas)

Berorganisasi telah menjadi sesuatu yang sungguh menarik perhatian saya sejak dulu. Dimana ada kesempatan untuk menempa diri di organisasi kesiswaan ataupun kemahasiswaan, disitu saya berusaha untuk hadir dan aktif terlibat. Entah apa pendorongnya, tapi mungkin dorongan untuk membuktikan diri dan memberikan manfaat bagi orang banyak adalah beberapa faktornya.

Continue reading

MSc Story : Policy Analysis of Multi Actor System (Study Case in Kerala, India)

Kerala, India (Sumber : keralagreenery.com)

Ceritanya di Quarter ini salah satu mata kuliah yang saya ikuti bernama Policy Analysis of Multi Actor Systems. Salah satu case study-nya adalah tentang Kerala, salah satu daerah pinggir pantai di India bagian barat daya. Daerah ini punya natural resources yang sangat melimpah, hasil perikanannya banyak, dan banyak pohon kelapa yang bisa dimanfaatkan. Pariwisata juga cukup menjanjikan disana. Kualitas sumber daya manusia di sana sendiri juga cukup bagus, karena memilki literation rate tertinggi di India.

Continue reading

Kutipan #3

Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali!

(Tan Malaka)